
Di dalam sebuah ruang belajar, peserta duduk rapi. Modul digital terpampang di layar, catatan terisi, dan fasilitator menjelaskan indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) secara runut, baik tatap muka maupun daring. Pengetahuan telah dibagikan, visibilitas meningkat, dan kapasitas peserta diperkuat. Namun, di balik proses yang tampak sempurna itu, banyak capstone project berhenti di ruang kelas. Implementasi di lapangan masih terbatas, ide-ide cemerlang menunggu eksekusi, praktik komunitas jarang terealisasi, dan strategi kolaborasi kerap berakhir sebagai wacana terbatas. Sejumlah inisiatif bahkan terkesan menjadi formalitas untuk menyelesaikan pelatihan, menyisakan tanda tanya besar tentang kontinuitas dan relevansi aksi nyata. Mungkin hal tersebut bagaikan angin lewat yang tidak perlu didiskusikan dan dipikirkan bagi sebagian orang, nyatanya dibawa diatas meja riset dan penelitian menunjukan sikap serius akan hal serupa. Data penelitian The International Journal of Research and Innovation in Social Science (IJRISS) berjudul Student’s Knowledge, Attitudes, and Practice towards Sustainable Development Goals (2025), yang menunjukkan bahwa meskipun tingkat pengetahuan dan sikap terhadap SDGs tergolong tinggi, praktik keberlanjutan tetap terbatas dan tidak sebanding dengan pemahaman yang dimiliki. Fakta ini menyadarkan bahwa pengetahuan dan sikap positif yang dimiliki seseorang tidak otomatis menjelma menjadi tindakan.
Kesenjangan tersebut di tahun sebelumnya yakni 2024, nyatanya sudah menjadi perbincangan para peneliti University of Portsmouth United Kingdom dan Carleton University Canada pada temuan The Journal of Technology Transfer dalam Innovation for Sustainable Development Goals, mengungkap lebih lanjut dan mendalam bahwa hambatan implementasi SDGs lebih banyak bersumber pada persoalan struktur, kolaborasi, dan proses inovasi, bukan pada kurangnya pengetahuan teknis. Artinya, persoalan utama bukan terletak pada kemampuan, melainkan pada absennya kerangka sistemik yang menyalakan kemauan untuk bertindak. Bagaikan hal yang kebetulan dengan tahun yang bersamaan, peneliti Asia dan Eropa pada Journal of Innovation & Knowledge melalui Roles of Innovation in Achieving the Sustainable Development Goals memperkuat temuan sebelumnya, bahwa inovasi sosial dan model kerja baru menjadi jalur strategis untuk menerjemahkan teori SDGs ke dalam aksi nyata, dengan menekankan pentingnya mekanisme yang mampu memicu dorongan internal. Seluruh penjuru dunia mulai merasakan keresahan yang sama, seharusnya begitupun terjadi di negara kita Indonesia. Sehingga dalam sisa waktu lima tahun penentuan menuju target pelaksanaan SDG hingga 2030, tantangan SDG Academy Indonesia sebagai institusi pembelajaran dan fasilitator perubahan menyisakan pertanyaan mendasar: mengapa kita sibuk membuat orang mampu, tetapi lupa membuat mereka mau?
Kemauan sebagai Prasyarat Pembelajaran: Fondasi Teoretis Will-First Learning
Bayangkan pengetahuan sebagai mesin berlapis baja, lengkap dengan roda, poros, dan gir yang dirancang agar bergerak. Banyak program pembelajaran sibuk merakit mesin ini, modul disusun rapi, indikator ditempatkan presisi, evaluasi dijalankan sistematis, namun sering lupa satu elemen paling vital: energi yang menyalakan ruang bakarnya. Energi itu adalah kemauan, energi internal yang mengubah potensi menjadi tindakan nyata. Literatur transfer of training menunjukkan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan sering tidak diterapkan dalam konteks nyata jika peserta kurang termotivasi atau tidak mendapat dukungan lingkungan kerja yang memadai (Workplace training transfer: A systematic scoping review of evaluation tools for adult learning, 2025). Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan transfer pelatihan sangat bergantung pada motivasi internal peserta dan kondisi organisasi, bukan semata pada kualitas materi teknis pelatihan. Fakta ini menegaskan bahwa kegagalan pembelajaran lebih sering lahir dari absennya dorongan internal daripada kekurangan materi atau kemampuan teknis.
Secara teoretis, Will-First Learning bersandar pada beberapa fondasi psikologis dan perilaku: Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1991) yang menegaskan bahwa perilaku lahir dari niat, bukan sekadar kemampuan; Self-Determination Theory (Deci & Ryan, 2000) yang menekankan bahwa motivasi intrinsik muncul ketika pembelajar menemukan makna pribadi dan relevansi langsung; serta Experiential Learning (Kolb, 1984) yang menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam terjadi ketika pengetahuan dipadukan dengan pengalaman dan refleksi aktif. Dengan demikian, Will-First Learning membalik urutan pembelajaran konvensional: kemauan mendahului kemampuan. Roda aksi tidak akan berputar hanya karena keterampilan teknis telah diasah, ia hanya akan bergerak ketika api internal menyala, ketika niat hadir, dan ketika makna ditemukan dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Ketika Pengetahuan Tidak Berujung Tindakan: Kesenjangan antara Mampu dan Mau
Kontras ini juga tercermin dalam ekosistem pengetahuan SDG Academy Indonesia, di mana lebih dari 730 artikel dan praktik baik telah terdokumentasi melalui platform berbagi pengetahuan. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya kapasitas reflektif dan intelektual peserta, sekaligus menggambarkan keberhasilan SDG Academy Indonesia dalam membangun ruang pembelajaran dan dokumentasi SDGs yang inklusif. Namun pada saat yang sama, capaian ini juga mengindikasikan bahwa sebagian praktik masih berhenti pada tahap dokumentasi, dan belum seluruhnya terhubung dengan siklus aksi berulang yang berkelanjutan di tingkat komunitas yang tergambar pada sebuah kutipan ironis yang saya buat ini barangkali tepat: “Every time you learn about SDGs, knowledge is gained”
Setiap waktu, manusia berhadapan dengan dilema klasik antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan. Pengetahuan memberi rasa aman, sementara tindakan menuntut keberanian. Kita sering memilih nyaman di zona “sudah paham untuk nyaman”, tanpa melangkah ke zona “sudah paham untuk melakukan”. Setiap kali kita belajar tentang SDGs, kemampuan memang tercipta. Namun realitas menunjukkan bahwa kemampuan tersebut sering berhenti sebagai pengetahuan. Lantas bagaimana?
SDGs Micro Impact Marketplace: Kemauan sebagai Titik Awal Pembelajaran
Meskipun platform pembelajaran daring SDG Academy Indonesia telah diakses lebih dari 25.000 peserta dan lebih dari 730 artikel praktik baik terdokumentasi, tingkat penyelesaian modul rata-rata hanya 47%, menunjukkan bahwa dokumentasi dan aksesibilitas tinggi belum otomatis mendorong aksi nyata (Voluntary National Review Indonesia, 2025). SDGs Micro Impact Marketplace hadir sebagai kerangka pembelajaran inovatif yang membalik logika konvensional: aksi nyata menjadi pintu masuk, sementara pengetahuan tumbuh dari praktik langsung. Prinsip Will First Learning menekankan bahwa kemauan untuk bertindak adalah titik awal, bukan sekadar hasil akhir. Marketplace bukan sekadar ruang virtual, ia adalah ekosistem interaktif yang mempertemukan peserta, mentor, komunitas lokal, alumni, dan organisasi pendamping untuk saling bertukar komitmen, pengalaman, dan dampak nyata. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada transfer pengetahuan semata, melainkan menumbuhkan pemahaman organik yang lahir dari praktik nyata dan refleksi langsung di lapangan.
Proses pembelajaran dimulai ketika peserta memilih isu SDGs lokal yang paling relevan, misal pengentasan kemiskinan, pendidikan berkualitas, pengelolaan sampah, atau energi terbarukan dan menuliskan komitmen aksi nyata. Tahap ini membangun keterikatan personal dan rasa tanggung jawab sejak awal, sekaligus membuka ruang inspirasi dari praktik-praktik yang telah dilakukan peserta lain. Peserta kemudian memasuki action sprint, melakukan intervensi mikro yang kontekstual dan berdampak nyata. Seluruh langkah dilakukan dengan pendampingan mentor atau mitra local di lapangan agar setiap aksi berakar pada kebutuhan masyarakat.
Setiap aksi terdokumentasi di marketplace dalam bentuk visual, laporan singkat, atau narasi pengalaman. Dokumentasi ini menjadi medium pembelajaran horizontal, memungkinkan peserta lain memberikan umpan balik, menilai relevansi, dan mereplikasi praktik yang efektif di wilayah mereka. Tahap refleksi mendalam menjadi kunci untuk memperkuat pemaknaan atas aksi yang dilakukan; peserta mendiskusikan capaian, tantangan, dan pelajaran, baik melalui mentor maupun mekanisme peer to peer. Marketplace juga dilengkapi sistem pengukuran dampak berbasis indikator kuantitatif dan kualitatif, yang memverifikasi bahwa setiap aksi memberi kontribusi nyata terhadap SDGs. Hasil pembelajaran tidak berhenti pada pengalaman individu, melainkan bertransformasi menjadi pengetahuan kolektif yang dapat diperluas dan direplikasi, membentuk siklus perbaikan dan literasi yang berkelanjutan.
Marketplace menegaskan bahwa pembelajaran SDGs bukan sekadar transfer pengetahuan. Aksi menjadi titik awal, refleksi menjadi jembatan, dan dampak nyata menjadi ukuran keberhasilan. Pendekatan ini memungkinkan peserta belajar dari pengalaman nyata, menumbuhkan motivasi intrinsik, dan membangun kapasitas bertindak secara berkelanjutan. Dengan prinsip ini, setiap intervensi berskala mikro tidak hanya memberikan manfaat lokal, tetapi juga berpotensi memicu perubahan sistemik melalui praktik yang dapat direplikasi, menyiapkan fondasi logis untuk memaksimalkan sisa lima tahun menuju target SDGs 2030.

Kolaborasi sebagai Penjaga agar Kemauan Tidak Terhenti
Pengalaman SDG Academy Indonesia menunjukkan bahwa kemauan untuk bertindak cenderung melemah ketika peserta kembali bekerja sendiri, tanpa ruang berbagi dan dukungan lintas aktor. Di sinilah kolaborasi menjadi elemen penting untuk menjaga agar kemauan tetap hidup dan aksi berlanjut. Data menunjukkan bahwa Program Kepemimpinan SDG telah meluluskan 112 alumni lintas sektor (SDG Academy Indonesia, 2023). SDGs Micro Impact Marketplace memanfaatkan jaringan alumni, mentor, komunitas, dan pemangku kepentingan lintas sektor untuk menjaga kontinuitas kemauan. Praktik mikro tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung, diperkuat, dan direplikasi. Alumni memberi bimbingan dan memperluas intervensi di wilayah lain, komunitas lokal memvalidasi relevansi aksi, dan dokumentasi di marketplace menjadi pemicu pembelajaran bersama. Dengan mekanisme ini, setiap aksi individu dapat berkembang menjadi pengetahuan kolektif yang berdampak luas, sekaligus memastikan kemauan untuk bertindak tetap hidup di seluruh ekosistem, karena kemauan tumbuh dari koneksi dan interaksi, bukan ditanggung sendiri.
Kesimpulan
Dari seluruh uraian tersebut, satu hal menjadi jelas: tantangan utama pembelajaran SDGs bukan terletak pada kurangnya kemampuan, melainkan pada kegagalan menumbuhkan kemauan. Kemauan adalah jembatan antara mengetahui dan bertindak. Tanpa kemauan, pengetahuan hanya menjadi arsip; dengan kemauan, aksi kecil dapat melahirkan dampak besar. Melalui paradigma will first learning dan sistem SDGs Micro Impact Marketplace, pembelajaran SDGs dapat dihidupkan kembali sebagai proses yang bermakna, terukur, dan berkelanjutan yang sejalan dengan peran SDG Academy Indonesia sebagai aset nasional penggerak agenda pembangunan berkelanjutan. Akhirnya, kutipan ironis yang saya sebelumnya cantumkan dengan menyatakan bahwa “Every time you learn about SDGs, knowledge is gained” barangkali dapat kita revisi pada Tujuan Pembangunan Keberlanjutan disisa lima tahun penentuan menjadi “Every time you learn through SDGs, will is awakened.”
Daftar Pustaka
- Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211.
- Ardondi, M., Fortunato, E., Ruozi, C., Di Fronzo, P., Saffioti, A., Ferrari, I., Bassi, M. C., Ghirotto, L., & Pedroni, C. (2025). Workplace training transfer: A systematic scoping review of evaluation tools for adult learning. Journal of Workplace Learning.
- Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.
- International Journal of Research and Innovation in Social Science. (2025). Student’s knowledge, attitudes, and practice towards Sustainable Development Goals. IJRISS.
- Journal of Innovation & Knowledge. (2024). Roles of innovation in achieving the Sustainable Development Goals. Journal of Innovation & Knowledge.
- Journal of Technology Transfer. (2024). Innovation for Sustainable Development Goals. The Journal of Technology Transfer.
- Kolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. New Jersey: Prentice Hall.
- SDG Academy Indonesia. (2023). SDG Academy Indonesia meluluskan SDG Leaders Angkatan ke-4. United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia.
- United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia. (2023). Program Kepemimpinan SDG Academy Indonesia. Jakarta: UNDP Indonesia.
- Voluntary National Review Indonesia. (2025). Voluntary National Review Indonesia 2025: Percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.
Author : Yoga Fauzan Renardi S.Hub.Int | Editor : Elina Pebriyanti
#SDGsIndonesia #Will-FirstLearning #InovasiPendidikan #CommunityDevelopment #SocialImpact #TheSustainableDevelopmentGoals(SDGs)
