
Foto Petani yang sedang menjemur “Beras Rasi” makanan pokok masyarakat Kampung Adat Desa Cirendeu.
Pernahkah anda berfirkir bahwa dari sekian banyak makanan lokal yang kita makan sehari-hari berapa banyak yang bisa kita kenalkan ke orang asing?
Bisa dibilang saat kita ngejelasin Sate, Rendang, dan Nasi Goreng ke turis mancanegara itu cukup mudah. Tapi coba kita bayangkan kalau mereka bertanya “Kenapa beras Rasi ini tidak banyak dikonsumsi di Indonesia?”
Itulah yang saya alami langsung pada Gala Dinner CAUSINDY 2026 di Sheraton Hotel Bandung saat mengenalkan Rasi, beras singkong khas Kampung Adat Cirendeu ke delegasi internasional. Beberapa dari mereka bertanya “Is this paddy rice?” jawaban sederhananya “bukan”, tapi menjelaskan alasannya cukup sulit dari yang saya kira.
Jika menjelaskan satu jenis makanan saja cukup sulit seperti ini, lantas bagaimana nasib ribuan pangan lokal indonesia lainnya di mata dunia?
Benarkah kita cukup rajin dalam menceritakan pangan kita sendiri?
Kita mengenal beras padi sebagai makanan pokok yang familiar untuk dikonsumsi oleh hampir separuh populasi dunia, dengan Asia menyumbang sekitar 90% dari produksi global (FAO, 2023). Sehingga nasi melekat pada identitas kuliner Asia.
Namun, di tengah dominasi tersebut, ada satu kelompok adat di Cimahi yang justru memilih jalan yang berbeda sejak 1918, ketika leluhur mereka memutuskan untuk berhenti mengonsumsi beras. Bagi masyarakat Adat Cirendeu, singkong dikenal sebagai “sampeu/sampeureun” yang berarti keberlanjutan, di mana singkong tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi sebagai simbol bahwa adat, pengetahuan mengolah pangan, dan nilai hidup masyarakat harus “kasampeur” atau diwariskan turun temurun kepada anak cucu. (Priyanto & Desmafianti, 2023).
Jadi jika ditanya “Kenapa dunia belum kenal Rasi?”, jangan-jangan pertanyaan yang jujur adalah “kenapa kita sendiri belum benar-benar mengenalnya?”
Masalahnya bukan soal kalah enak, melainkan kita belum rajin menceritakannya bahkan ke diri sendiri apalagi dunia.
Mengapa Kita Sulit Menjelaskan Pangan Lokal Ke Orang Asing?

Delegasi CAUSINDY asal India yang mencoba “Rasi” dan “Dendeng kulit singkong”
Saat Gala Dinner CAUSINDY 2026 bersama Hareudang Bandung, kami berkesempatan untuk mengenalkan Rasi dan Dendeng kulit singkong kepada delegasi internasional. Mereka cukup menikmati dan menyukai makanan tersebut. Namun, ketika mereka bertanya mengenai filosofis khususnya ‘Rasi’, cukup kebingungan untuk menjelaskannya, perlukah menjelaskan filosofis “sampereun” atau cukup asal daerahnya saja?
Sebagai perbandingan dengan menu Feast Restoran Hotel Sheraton, mereka mengenalkan pangan nusantara dengan strategi bahasa yang matang. Misalnya “Nasi Campur Bali” mereka jelaskan sebagai “sate ayam, telur rebus, salad lawar, dan sambal.” Menunjukan strategi mereka mengenalkan ciri khas budaya sekaligus memastikan kejelasan bagi tamu mancanegara (Ananto & Simatupang, 2026).
Dari hal tersebut bisa diasumsikan bahwa kita mungkin sudah punya bahasa untuk makanan yang familiar untuk dijelaskan. Namun, kita masih perlu mengembangkan bahasa untuk menjelaskan pangan lokal yang menyimpan cerita mendalam.
Panggungnya Sudah Ada, Tapi kok Rasi Belum Dikenal Dunia?
Ghafiqi, A. (2023) menjelaskan bahwa Gastrodiplomasi merupakan praktik diplomasi budaya dengan memanfaatkan kekayaan kulinernya untuk kepentingan nasional, misalnya sebagai nation branding suatu negara. Gastrodiplomasi ini sering dianggap sebagai diplomasi publik yang di mana advokasi tidak secara langsung memberikan pengaruh, melainkan melalui hubungan emosional.
Hingga saat ini Indonesia sudah punya strategi gastrodiplomasi misalnya kerja sama restoran diaspora dan festival kuliner internasional seperti program Indonesia Spice Up the World (ISUTW) yang menargetkan pembukaan restoran di luar negeri sambil mengenalkan rempah khas nusantara (Parmato dkk., 2023), yang kemudian bertransformasi menjadi S’RASA (Rasa Rempah Indonesia) dengan misi menstandardisasi rasa autentik kuliner nusantara supaya semakin dikenal dunia (Kemlu RI, 2025).
Namun di sinilah persoalannya, panggung yang sudah dibuat oleh pemerintah masih dirancang untuk makanan yang memang mudah untuk “dijual”atau familiar, bukan untuk pangan lokal yang menyimpan kisah paling dalam seperti “Rasi” yang justru butuh ‘panggung’ yang lebih besar.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?
Pertama, bisa dimulai dengan pelatihan bahasa Inggris praktis untuk pelaku UMKM dan komunitas pangan lokal. Sehingga tidak hanya menghafal nama makanan, tetapi juga cara bercerita singkat “elevator pitch”, untuk menarik atraksi turis mancanegara. Misalnya bisa berlatih dengan konsep English for Spesific Purpose di bidang hospitality seperti perhotelan dan pelayanan masyarakat, bisa diajarkan bahasa inggris dengan spesifik bidang tersebut. Di sini juga pelaku UMKM dan komunitas pangan lokal bisa belajar untuk simulasi menjawab atau mengenalkan pangan lokal nusantara kepada turis.
Kedua, dengan kolaborasi antara hotel besar seperti Hotel Sheraton Bandung yang sudah memiliki strategi untuk membuat narasi menu, dengan komunitas atau kelompok pangan lokal yang punya cerita tapi terbatas pada bahasa seperti Kampung Adat Cirendeu. Hal ini dapat menjembatani pangan lokal yang belum dikenal menjadi dikenal.
Terakhir yakni bisa dengan program gastrodiplomasi negara yang tidak hanya fokus pada makanan yang sudah populer sebelumnya (rendang, soto, nasi goreng, dsb), melainkan diharapkan kedepannya bisa menjadi panggung untuk pangan lokal dengan kaya cerita (Rasi, Papeda, dsb).
Kesimpulan
Pengalaman langsung memperkenalkan Rasi dan Dendeng kulit singkong Cirendeu kepada delegasi CAUSINDY 2026 menjadi bukti relevan dari artikel ini, bahwa pangan lokal Indonesia akrab di Nusantara tapi asing di dunia bukan karena kalah rasa, melainkan belum punya bahasa dan kompetensi komunikasi yang memadai untuk menjembatani maknanya secara spontan maupun tertulis kepada audiens global.
Perjalanan Rasi dan Dendeng kulit singkong dari Kampung Adat Cirendeu ke ballroom Sheraton Hotel Bandung ini baru permulaan. Menjembatani pangan lokal ke panggung dunia membutuhkan lebih banyak tangan dan suara. Ikuti langkah Hareudang Bandung dalam mendokumentasikan dan mempromosikan kekayaan pangan lokal nusantara di sini.
Referensi
Alicia, N., Ramadhani, W., & Nawangwulan, S. (n.d.). Pengembangan Wisata Gastronomi pada Restoran Mari Merangkai Bunga Seroja sebagai Bentuk Pelestarian Budaya Pangan Sunda (Vol. 8). Retrieved http://Jiip.stkipyapisdompu.ac.id
Firdaus Al Ghafiqi, A., Studi, P. S., & Internasional, H. (2023). GASTRODIPLOMASI: STRATEGI INDONESIA DALAM MEMBANGUN NATION BRANDING DI KANCAH INTERNASIONAL. In Journal of International Relations (Vol. 9, Number 2). http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jihi
Kharisma Parmato, D., Darman Moenir, H., & Elian Nasir, P. (2023). Kampanye Indonesia Spice Up the World (ISUTW) Sebagai Upaya Nation Branding Indonesia (Vol. 2, Number 2).
Kusnedi, R., Arafah, W., Hutagalung, M. H., & Wulan, S. (n.d.). Indonesia’s Gastrodiplomacy for Nation Branding, Diplomatic Relations, and Tourism Promotion: A Lived Experience Approach. Retrieved https://ajosh.org/
Priyanto, R., & Desmafianti, G. (2023). Cultural Value of Cassava Food as a Tourism Attraction in Cireundeu Traditional Village. Jurnal Kepariwisataan: Destinasi, Hospitalitas Dan Perjalanan, 7(1), 51–66. https://doi.org/10.34013/jk.v7i1.908
Sidiq Dwi Ananto, M., & Simatupang, E. C. (2026). REIMAGINING INDONESIAN CULINARY IDENTITY FROM RIJSTTAFEL TO GLOBAL HOSPITALITY. In Journal Sampurasun : Interdisciplinary Studies for Cultural Heritage (Vol. 12).
Penulis: Andini Destiany Putri | Kepala Divisi Manajemen Operasional Hareudang Bandung
