Ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan seringkali dianggap sebagai konsep teoretis yang berat bagi generasi muda. Namun, pada Selasa, 28 Oktober 2025, konsep-konsep tersebut menjelma menjadi pengalaman nyata yang menyentuh indra bagi para siswa SMP Hikmah Teladan. Melalui program Foodtouristic yang diinisiasi oleh Hareudang Bandung, puluhan siswa diajak melakukan perjalanan melintasi ruang dan waktu menuju sebuah permukiman yang memegang teguh prinsip kemandirian: Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi.

Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan wisata biasa. Ini adalah sebuah kolaborasi strategis antara lembaga pendidikan dan komunitas penggerak lingkungan yang bertujuan untuk menanamkan pemahaman mendalam tentang kearifan lokal dalam menghadapi krisis iklim global. Di tengah hiruk-pikuk perkembangan teknologi, para siswa justru diajak kembali ke tanah, menyentuh lumpur, dan mendengarkan bisikan alam yang telah dijaga selama berabad-abad oleh masyarakat adat.
Sambutan Hangat di Gerbang Budaya
Kehadiran rombongan SMP Hikmah Teladan dan tim Hareudang Bandung disambut dengan dentuman ritmis alat musik dogdog. Suara perkusi kayu yang khas ini bergema di sela-sela perbukitan, menciptakan atmosfer sakral sekaligus meriah. Prosesi penyambutan merupakan bagian penting dari etika bertamu di Kampung Adat Cireundeu. Para siswa menerima pengalungan bunga dan pemasangan iket tradisional sebagai simbol bahwa mereka telah diterima menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat adat selama kegiatan berlangsung.
Iket bukan sekadar penutup kepala bagi masyarakat Sunda. Ia adalah simbol ikatan pikiran dan hati. Dengan mengenakan iket, para siswa secara simbolis diajak untuk menyatukan pikiran mereka dengan nilai-nilai lokal yang akan mereka pelajari. Setelah penyambutan, kegiatan dibuka dengan penjelasan singkat mengenai filosofi hidup masyarakat Cireundeu yang terkenal dengan prinsip hidup tidak memakan nasi padi.
Carbon Offset: Menanam Harapan di Hutan Baladahan
Agenda utama yang menjadi pembuka kegiatan adalah praktik langsung carbon offset. Di era perubahan iklim ini, konsep carbon offset atau penebusan emisi karbon menjadi sangat krusial. Hareudang Bandung memandu para siswa untuk memahami bahwa setiap aktivitas manusia menghasilkan jejak karbon yang merusak atmosfer. Sebagai langkah nyata untuk menyeimbangkannya, para siswa diajak menuju Hutan Baladahan untuk melakukan penanaman singkong.
Hutan Baladahan bukan sekadar lahan perkebunan. Bagi warga Cireundeu, hutan terbagi menjadi tiga fungsi: Leuweung Larangan (hutan titipan/terlarang), Leuweung Tutupan (hutan lindung), dan Leuweung Baladahan (hutan produksi). Dengan menanam singkong di area Baladahan, para siswa belajar bahwa pemanfaatan alam harus dilakukan secara terukur dan bertanggung jawab. Proses menanam ini memberikan pelajaran fisik tentang betapa berharganya setiap tunas yang akan menjadi sumber oksigen sekaligus sumber pangan di masa depan.
Setelah beraktivitas di bawah terik matahari, para peserta beristirahat sejenak sambil menikmati air kelapa segar langsung dari buahnya. Momen ini digunakan untuk menjelaskan pentingnya konsumsi pangan alami yang minim proses industri, yang secara otomatis juga memiliki jejak karbon lebih rendah dibandingkan minuman kemasan.
Workshop RASI: Mengolah Kemandirian Pangan
Inti dari identitas Cireundeu terletak pada singkong. Sejak tahun 1918, masyarakat adat di sini telah memilih untuk tidak mengonsumsi nasi padi sebagai bentuk protes terhadap penjajah sekaligus strategi bertahan hidup saat paceklik. Mereka mengolah singkong menjadi Beras Singkong yang dikenal dengan istilah RASI.
Dalam workshop pengolahan RASI, siswa SMP Hikmah Teladan terlibat langsung dalam proses teknisnya. Mulai dari mengupas singkong, mencuci, memarut, hingga memeras airnya untuk memisahkan pati dan ampas. Proses ini membuka mata para siswa bahwa pangan pokok tidak harus bergantung pada satu komoditas saja. Diversifikasi pangan melalui RASI adalah bentuk nyata dari kedaulatan pangan. Mereka belajar bahwa dengan mengolah apa yang ada di tanah sendiri, sebuah komunitas tidak akan pernah merasa lapar meski terjadi krisis pangan global.
Workshop ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga mengubah perspektif siswa terhadap makanan. Singkong yang selama ini sering dianggap sebagai makanan kelas dua, di sini naik kasta menjadi simbol keberanian dan kemandirian sebuah bangsa.
Refleksi Mendalam: Food Loss dan Food Waste
Setelah bekerja keras di ladang dan tempat pengolahan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi refleksi yang dipandu oleh tim Hareudang Bandung. Di bawah naungan pohon yang rindang, para siswa diajak berdiskusi tentang masalah global yang ironis: food loss dan food waste.
Data menunjukkan bahwa berton-ton makanan terbuang setiap harinya, sementara di belahan bumi lain kelaparan masih menghantui. Melalui kacamata masyarakat Cireundeu yang sangat menghargai setiap butir makanan, siswa diajak merenungkan kebiasaan makan mereka sehari-hari. Mereka belajar bahwa menyisakan makanan adalah bentuk ketidakhormatan terhadap alam yang telah menyediakan nutrisi dan petani yang telah bekerja keras.
Diskusi ini dikaitkan kembali dengan praktik carbon offset yang mereka lakukan di pagi hari. Membuang makanan berarti membuang energi, air, dan emisi karbon yang telah dikeluarkan selama proses produksi. Dengan demikian, mengurangi sampah makanan adalah cara termudah bagi seorang pelajar untuk menjaga bumi.
Harmoni Musik dan Penutupan yang Berkesan
Kegiatan tidak berakhir pada diskusi serius semata. Untuk merayakan kebersamaan, para siswa diajak mempraktikkan permainan Angklung Buncis bersama warga adat. Angklung Buncis adalah kesenian tradisional yang biasanya dimainkan dalam upacara syukur atas hasil panen. Suara bambu yang saling bersahutan menciptakan harmoni yang menggambarkan betapa pentingnya kolaborasi dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Tawa dan keceriaan pecah saat para siswa mencoba mengikuti ritme yang dimainkan oleh tokoh adat. Musik menjadi bahasa universal yang menyatukan semangat muda SMP Hikmah Teladan dengan ketenangan warga adat Cireundeu. Melalui musik ini, pesan tentang pelestarian budaya disampaikan secara halus namun membekas di ingatan.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, setiap peserta menerima Beras Singkong (RASI) sebagai buah tangan. Ini bukan sekadar kenang-kenangan fisik, melainkan simbol bahwa mereka kini membawa pulang ilmu tentang ketahanan pangan ke rumah masing-masing. Foto bersama antara warga adat, tim Hareudang Bandung, dan para siswa menjadi penutup yang manis, mengabadikan momen di mana teori sekolah bertemu dengan realitas kearifan lokal.
Kesimpulan: Menyiapkan Generasi yang Berpihak pada Alam
Kegiatan Foodtouristic di Kampung Adat Cireundeu memberikan pelajaran berharga yang tidak mungkin didapatkan hanya dari buku teks. Siswa SMP Hikmah Teladan telah melihat langsung bagaimana sebuah komunitas bisa hidup selaras dengan alam tanpa harus mengorbankan kesejahteraan mereka.
Harapannya, setelah kepulangan dari Cireundeu, para siswa dapat menjadi pionir di lingkungannya dalam mempraktikkan gaya hidup minim sampah, menghargai keberagaman pangan lokal, dan memiliki kesadaran terhadap jejak karbon yang mereka hasilkan. Transformasi bangsa menuju masa depan yang hijau dimulai dari pemahaman para remaja tentang betapa berharganya setiap jengkal tanah dan setiap budaya yang kita miliki.
Melalui sinergi antara nilai religius yang dibawa oleh SMP Hikmah Teladan dan nilai ekologis dari Hareudang Bandung, perjalanan ke Cireundeu ini menjadi tonggak sejarah kecil bagi para siswa dalam perjalanan mereka menjadi pemimpin masa depan yang bijaksana dan cinta lingkungan.
