
Setiap tahun, jutaan ton makanan di Indonesia berakhir di tempat sampah. Menurut kajian Bappenas, kerugian ekonomi akibat makanan yang terbuang sia-sia mencapai Rp213-551 triliun per tahun. Masalah ini sering dianggap tentang moral yang kurang peduli, kurang berempati. Padahal kalau dilihat lebih dekat, akar masalahnya lebih teknis, yaitu belum ada sistem yang bisa menyalurkan makanan berlebih itu sebelum basi atau tutup toko.
Restoran Sadar Rugi, tapi Terjebak Sistem yang Buntu
Kebanyakan restoran dan pelaku UMKM makanan sebenarnya tahu mereka rugi kalau makanan dibuang. Tetapi, masalahnya makanan itu sifatnya cepat rusak, sementara jumlah pembeli tiap hari sulit ditebak dengan pasti. Menjelang jam tutup, masih ada sisa stok yang sebenarnya masih layak dimakan. Jika ingin disalurkan secara manual pastinya butuh biaya dan tenaga ekstra yang jarang tersedia pas jam kerja karyawan sudah mau habis. Akhirnya, membuang ke tempat sampah jadi pilihan “paling gampang”, walau sebenarnya itu kerugian besar.
Bagaimana Surplus Indonesia Mendesain Sistemnya

Untuk memecahkan kebuntuan operasional di menit-menit akhir tersebut, dibutuhkan sistem yang bisa bergerak cepat. Salah satu contoh nyata dari solusi ini adalah Surplus Indonesia. Aplikasi ini merancang marketplace dua sisi yang mempertemukan sisa stok restoran langsung dengan konsumen. Sistem ini menerapkan strategi flash sale menjelang jam tutup toko yang mewajibkan pihak restoran memberikan potongan harga paling sedikit 50%.
Ada beberapa hal yang bikin sistem ini benar-benar jalan:
- Keuntungan mitra usaha
Alasan restoran mau gabung bukan cuma soal bantu lingkungan, tapi karena mereka dapat pemasukan tambahan dari stok yang tadinya bakal jadi kerugian total. Surplus sendiri cuma ambil potongan kecil dari hasil penjualan, jadi mitra tetap dapat untung yang lumayan.
- Fitur yang bikin transaksi terasa lebih berarti
Surplus juga memiliki program donasi sumbangan 50gr beras setiap ada yang mengunduh aplikasinya. Ada juga fitur forum komunitas buat ngobrolin isu food waste bareng pengguna lain.
- Teknologi
Stok di aplikasi harus ter-update secara real-time. Surplus juga sudah terintegrasi dengan e-wallet (OVO, GoPay, DANA, ShopeePay) dan layanan antar (GoSend), jadi belanjanya semudah pesan makanan lewat aplikasi ojek online biasa.
Dampaknya di Dunia Nyata
Hingga pertengahan 2025, Surplus mengklaim telah menyelamatkan lebih dari 400.000 produk atau sekitar 10.000 ton produk, mencegah potensi kerugian ekonomi senilai lebih dari 1 juta dolar AS, sekaligus mengurangi lebih dari 10 juta CO2e emisi [7]. Ini menunjukkan kalau solusi ini bukan sekadar proyek sosial musiman, tapi memang dibutuhkan pasar. Manfaatnya juga berlapis dari sisi ekonomi yang membantu UMKM dapat pemasukan tambahan, dari sisi lingkungan membantu kurangi sampah makanan, dan sejalan juga sama target SDGs soal ketahanan pangan dan konsumsi yang bertanggung jawab.
Sistem model seperti ini juga ada di Eropa dan Amerika Utara, ada Too Good To Go yang sudah dipakai lebih dari 120 juta orang di seluruh dunia. Perbedaannya, TGTG memakai sistem “kantong kejutan” yang makanannya baru ketahuan saat diambil di toko, sementara Surplus lebih transparan karena pembeli bisa melihat jenis makanan yang akan dibeli. Walaupun pendekatannya berbeda, keduanya bukti bahwa ide dasar “hubungkan stok berlebih dengan pembeli lewat aplikasi” ini punya potensi di berbagai negara asalkan disesuaikan dengan kebiasaan dan preferensi pasar lokalnya masing-masing.
Tantangan yang Masih Ada
Sistem ini juga punya batasan. Tidak semua UMKM familiar sama teknologi, jadi ada yang kesulitan update stok tiap hari secara konsisten. Selain itu, layanan ini masih terpusat di kota-kota besar, tempat bisnis kuliner dan pengguna smartphone yang lebih padat. Tanpa edukasi lebih lanjut dan kemudahan yang lebih ramah buat penjual kecil, jangkauannya berisiko stuck di kota itu saja.
Kesimpulan
Banyaknya sampah makanan yang terbuang tiap tahun menunjukkan kalau masalahnya bukan cuma soal kurang peduli, tapi soal belum adanya sistem yang bisa menyambungkan pasokan dan permintaan di menit-menit terakhir. Dari studi kasus Surplus Indonesia, terlihat kalau desain sistem yang tepat mulai dari insentif buat mitra, integrasi teknologi, sampai fitur yang bikin pengguna nyaman, bisa mengubah limbah dapur yang tadinya nggak ada nilainya jadi sumber pemasukan baru. Urusan ketahanan pangan dan ekonomi sirkular sepertinya tidak cukup cuma disandarkan pada kampanye moral, tapi juga butuh sistem yang memang dirancang untuk mengatasinya.
Referensi
- Kementerian PPN/Bappenas. (2024, Juli 3). Bappenas: Potensi kerugian negara akibat sampah makanan Rp551 T. Tirto.id. https://tirto.id/bappenas-potensi-kerugian-negara-akibat-sampah-makanan-rp551-t-g1go
- Surplus Indonesia. (t.t.). Frequently ask question. https://surplus.id/faq/
- Surplus Indonesia. (t.t.). Surplus Partner – Pelaku usaha [Aplikasi]. Google Play. https://play.google.com/store/apps/details?id=com.surplus_app_merchant
- Waste4Change. (2023, Mei 16). 5 startup ini miliki solusi mengurangi food waste. https://waste4change.com/blog/5-startup-ini-miliki-solusi-mengurangi-food-waste/
- Surplus Indonesia. (t.t.). Surplus – Clearance Sale App [Aplikasi]. Google Play. https://play.google.com/store/apps/details?id=surplus.surplus_apps_customer&hl=id
- Surplus Indonesia. (2025, Juli 29). Surplus Indonesia sebagai “Clearance Sale App”. https://surplus.id/surplus-indonesia-sebagai-clearance-sale-app/
- Too Good To Go. (2025, Agustus 27). Too Good To Go accelerates U.S. expansion through rapidly growing partner network. PR Newswire. https://www.prnewswire.com/news-releases/too-good-to-go-accelerates-us-expansion-through-rapidly-growing-partner-network-302539498.html
- Yani, R. (t.t.). Aplikasi Surplus: Cara hemat belanja makan sambil selamatkan lingkungan. Lemon8. https://www.lemon8-app.com/@ria_yani24/7364967557029347841?region=id
Penulis : Qeisya Nailafazza Bilqish | Bendahara Hareudang Bandung

Pingback: Kenapa Harga Pangan Semakin Mahal? Mengurai Biaya Produksi, Distribusi, dan Inflasi - Hareudang Bandung