Apa pernah terpikirkan olehmu bahwa makanan yang setiap hari kamu makan pernah menjadi sesuatu yang sulit didapatkan masyarakat Indonesia? Makanan-makanan tersebut kadang terbuang begitu saja karena kita dapat memperolehnya dengan mudah. Padahal dalam sejarah, Indonesia pernah mengalami berbagai permasalahan pangan, mulai dari produksi yang terganggu, distribusi yang terhambat, hingga kelaparan massal. Pada awal kemerdekaan Indonesia, distribusi pangan terganggu akibat dari perang untuk mempertahankan kedaulatan negara. Hal tersebut tentunya membuat kebutuhan pangan masyarakat sulit terpenuhi. Sekitar empat juta orang di Jawa telah meninggal akibat kelaparan dan penyakit selama masa kolonialisme. (Eng, Pierre. 2024). Jumlah korban dari data tersebut bisa saja bertambah seiring dengan penelitian yang dilakukan. Puluhan tahun kemudian, Indonesia mengalami krisis pangan 1997-1998 akibat fenomena El Nino yang mengganggu produksi pangan. Hal tersebut juga diperparah dengan krisis moneter yang membuat harga kebutuhan pokok meningkat.
Dalam situasi tersebut, makanan jadi sesuatu yang berharga di masyarakat. Beras, tepung, minyak, atau bahan-bahan pangan lainnya menjadi barang yang sulit didapatkan. Setiap bahan memiliki nilai karena tidak selalu mudah untuk mendapatkannya. Namun saat ini, Indonesia menghadapi ironi yang berbeda. Kita dapat memperoleh makanan dengan mudah. Namun, makanan tersebut justru semakin sering berakhir jadi sampah. Sisa makanan dari rumah, tempat makan, atau makanan yang sering kita beli secara berlebihan menjadi bagian dari masalah food waste yang terus berkembang.
Jika penulis melihat kembali sejarah Indonesia, muncul beberapa pertanyaan yang menarik. Mengapa masyarakat Indonesia saat ini sangat mudah membuang makanan, padahal dalam sejarah kita berkali-kali mengalami krisis pangan? Apakah krisis di masa lalu masih memengaruhi cara kita memandang dan menghargai makanan hari ini?
Krisis Pangan Indonesia: Ketika Makanan Sulit Didapatkan

(Berita tangani krisis pangan, Bali Post 1998)
Pada masa awal kemerdekaan, perang dan gangguan distribusi menyebabkan masyarakat sulit untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Menurut Eng (2024), Van Hoogstraten yang menjabat sebagai Direktur Departemen Urusan Ekonomi Hindia Belanda, Ia menyebutkan bahwa empat juta orang di Jawa telah meninggal
akibat kelaparan dan penyakit selama pendudukan kolonialisme. Persoalan mengenai krisis pangan kembali menjadi perhatian ketika Indonesia mengalami krisis pangan dan krisis moneter tahun 1997-1998. Fenomena El Nino memengaruhi produksi pertanian dan pangan Indonesia yang kemudian diperparah dengan krisis moneter yang mengakibatkan meningkatnya harga kebutuhan pokok sehingga menurunkan daya beli masyarakat saat itu. Pada masa itu persoalan pangan menjadi perhatian pemberitaan di koran nasional bahkan internasional. Pada tahun 1998, muncul pemberitaan mengenai penanganan krisis pangan melalui pendanaan pertanian internasional melalui G77. Berita tersebut turut menyinggung Indonesia mengenai pernyataan dari anggota delegasi Indonesia dan mantan Gubernur Bank Indonesia saat itu. Hal tersebut menunjukkan bahwa krisis pangan saat itu bukan sekadar persoalan produksi, tetapi berdampak dan berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia.
Dalam situasi seperti itu, tentunya makanan memiliki nilai yang berbeda. Masyarakat membutuhkan usaha dan biaya yang lebih untuk mendapatkan beras atau bahan pangan lainnya sehingga makanan tentu bukan suatu yang bisa dianggap remeh.
Food Waste di Indonesia: Ketika Makanan Mudah Dibuang

(foto wanita di jalan membungkuk di depan sekarung beras, Nationaal Archief 1948)
Setelah bangsa Indonesia berhasil keluar dari masa-masa yang sulit akibat persoalan pangan di masa lalu, kini persoalan mengenai makanan justru menunjukkan wajah yang berbeda. Di masa sekarang, makanan relatif lebih mudah didapatkan. Kita bisa setiap hari mengunjungi restoran, Kafe, tempat makan atau street food di berbagai daerah. atau bahkan cukup memesannya melalui aplikasi daring. Namun, kemudahan tersebut justru memunculkan persoalan baru yaitu banyaknya makanan yang akhirnya tidak dimakan sehingga berakhir menjadi sampah.
Masalah tersebut tidak bisa dianggap sepele. Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) dalam Food Waste Index Report 2021 memperkirakan ada sekitar 931 juta ton makanan yang terbuang di tingkat rumah tangga, layanan makanan, dan ritel. Jumlah tersebut setara dengan 121 kilogram makanan setiap orang per tahun. (UNEP, 2021). Untuk Indonesia, UNEP memperkirakan household food waste mencapai 20,94 juta ton per tahun atau sekitar 77 kilogram setiap orang per tahun. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, sampah sisa makanan mencapai 40,76% dari total timbunan sampah nasional pada tahun 2025. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan sampah sampah lainnya termasuk sampah plastik yang berada di angka 20,49%. (Shafidhya, 2026). Lebih lanjut, menurut laporan terbaru yang dikeluarkan oleh UNEP 2024, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara penghasil food waste terbesar di Asia Tenggara. (Alif, 2026).
Data atau angka di atas memang terasa jauh dari gambaran krisis pangan pernah terjadi di masa lalu. Namun, itulah ironi yang dihadapi Indonesia masa kini. Makanan yang dahulu harus diperoleh dengan usaha dan susah payah kini dengan mudahnya dibuang. Padahal dibalik makanan yang terbuang tersebut ada sumber daya air, tenaga, biaya produksi, dan aspek lainnya yang ikut terbuang sia-sia. Oleh karena itu, food waste bukan hanya tentang sisa makanan, tetapi tentang bagaimana kita memandang dan menghargai makanan di tengah kehidupan yang semakin memudahkan. Lalu, Apakah pengalaman bangsa Indonesia menghadapi krisis dan kelangkaan pangan benar-benar sudah tidak memengaruhi cara kita menghargai makanan hari ini?
JANGAN SAMPAI KITA LUPA MENGHARGAI MAKANAN

(Antrian panjang masyarakat di pasar murah, Arsip Komdigi Koran Analisa 1998)
Ketika kita membuang makanan terasa seperti perbuatan yang mudah dilakukan atau persoalan yang kecil bagi kita. Sepiring nasi yang tidak habis, makanan yang terlupakan di dalam kulkas, atau makanan yang berlebih dari sebuah acara terasa tidak berarti jika hanya dilihat satu per satu. Namun, ketika kebiasaan tersebut dilakukan secara terus menerus dan dalam jumlah yang besar, maka dampaknya akan semakin terasa dan semakin besar juga. Ketika sampah makanan menumpuk dan membusuk tanpa pengelolaan yang baik akan menghasilkan gas metana. Gas metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Jejak karbon yang dihasilkan dari food waste diperkirakan mencapai 3,3 miliar ton CO2 per tahun atau setara dengan total emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer setiap tahunnya. (Handoyo & Asri, 2023). Emisi gas rumah kaca tersebut dapat membuat suhu di bumi meningkat secara global. Bayangkan apa yang akan terjadi jika suhu bumi terus meningkat? udara semakin panas, kekeringan yang dapat mengakibatkan gagal panen yang akan berdampak juga terhadap sosial dan ekonomi, kelaparan dan lainnya. Makanan yang terbuang berdampak pada pengurangan air bersih, lahan, tenaga, dan biaya pada proses produksi. Padahal, seharusnya kita dapat memanfaatkannya dengan baik. Oleh karena itu, persoalan sampah makanan bukan hanya sekadar kebersihan rumah atau banyaknya sampah di tempat pembuangan akhir, tetapi juga ada persoalan lingkungan, sosial, dan ekonomi yang terbawa di dalamnya.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? kita tidak harus melakukan sesuatu yang besar. Mulailah dengan langkah kecil seperti mengambil atau membeli makanan yang sesuai kebutuhan, menghabiskan atau menyimpannya dengan baik. Langkah tersebut merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari. Makanan yang masih layak juga dapat diolah kembali atau dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan. Kita tidak mungkin mengulang krisis pangan hanya untuk membuat generasi sekarang memahami arti sebuah makanan. Sejarah sudah memberi kita cukup alasan untuk menghargainya. Menghargai makanan hari ini adalah salah satu cara sederhana untuk belajar dari sejarah, bukan dengan mengulang kekurangannya, tetapi dengan berhenti menyia-nyiakan apa yang sudah kita punya.
Sumber data
Eng, P. V. D. (2024). Missing millions: Java’s 1944–45 famine in Indonesia’s historiography. Modern Asian Studies, 58(2), 563–583.
Shafidhya, T. A. (2026). Sampah Indonesia Didominasi Sisa Makanan Pada 2025. GoodStats.
Alif, M. Dkk (2026). Mengungkapkan Krisis Food Waste di Perkotaan: Bukti Data, Dampak, dan Strategi Mitigasi Berkelanjutan. Media Mahasiswa Indonesia.
UNEP. (2021). Food Waste Index Report 2021. United Nations Environment Programme.
Handoyo M. A., Asri. N. P. (2024). KAJIAN TENTANG FOOD LOSS DAN FOOD WASTE: KONDISI, DAMPAK, DAN SOLUSINYA. Journal of Food Technology and Agroindustry, 6(2), 82-89
Sumber foto:
Vrouwen op straat buigen zich over een zak met rijst, Bestanddeel Nr 5419. (1948) Nationaal Archief. https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Vrouwen_op_straat_buigen_zich_over_een_zak_met_rijst,_Bestanddeelnr_5419.jpg
Antrian Pasar Murah 1998. Arsip Komdigi dalam koran Analisa. https://mpn.komdigi.go.id/arsip/detail/103423/sheet?q=antri%20beli%20sembako
Berita Tangani Krisis Pangan 1998. Arsip Komdigi dalam koran Bali Post. https://mpn.komdigi.go.id/arsip/storage/resize/bcb0d3b848e042f11cf63204cd7be8e76287bbaa.jpg
Penulis : Rizky Aditia Fauzan | Kepala Unit Aksi Lapangan Hareudang Bandung
