
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai solusi ampuh untuk masalah gizi anak bangsa. Dimasak serentak diribuan dapur dan dibagikan ke jutaan anak setiap hari, lengkap dengan narasi keberhasilan yang terus-menerus digaungkan melalui berbagai laporan dan pemberitaan media. Tapi ada satu bagian cerita yang jarang muncul di sana: tumpukan sisa makanan yang berakhir di tempat sampah. Nasi yang tidak disentuh, lauk yang dibuang begitu saja, porsi yang dihitung asal-asalan, semua itu nyatanya ikut “diproduksi” dalam skala nasional setiap hari, hanya saja tidak pernah masuk ke laporan keberhasilan mana pun. Di sinilah pentingnya peran green accounting. Bukan sebagai pemanis laporan CSR, tetapi sebagai alat untuk memaksa program ini jujur soal berapa banyak uang negara yang sebenarnya berakhir di tong sampah dan seberapa serius niat untuk membenahinya.
Yang rajin dipublikasikan selama ini cuma angka jumlah penerima. Seolah begitu makanan sampai di depan meja, urusan program sudah beres dan tanggung jawabnya berhenti sampai disitu. Padahal yang terjadi habis itu, dimakan atau malah berakhir di tempat sampah, sama-sama penting buat diketahui kalau memang tujuannya bukan cuma sekedar angka saja.
Skala Besar, Risiko Besar
Semakin besar sebuah program, semakin mudah pula inefisiensinya disembunyikan dibalik angka yang penting tersalurkan. Kelebihan produksi, salah estimasi porsi, distribusi telat sampai makanan basi sebelum dikonsumsi, lalu berakhir dengan dibuang. Semua ini dianggap risiko wajar dari program berskala besar. Padahal setiap makanan yang terbuang itu bukan sekedar makanan, melainkan uang dari pajak rakyat yang lenyap tanpa pernah benar-benar dipertanggungjawabkan. Ironisnya, food waste yang dihasilkan dari MBG justru dianggap sebagai risiko yang wajar untuk ditoleransi, hanya karena program ini berjalan dalam skala besar. Padahal logikanya harusnya terbalik: semakin besar programnya, semakin besar pula kewajiban untuk mengontrol setiap pajak dan setiap makanan yang dikeluarkan, bukan malah semakin longgar pengawasannya dengan dalih programnya memang sudah sebesar ini.

Food Waste yang Sengaja Dilupakan dari Pembukuan
Akuntansi konvensional terbukti cukup piawai dalam menghitung berapa banyak dana yang telah dibelanjakan, namun anehnya menjadi begitu pelupa ketika harus menghitung berapa banyak yang terbuang sia-sia. Sisa makanan seolah-olah diperlakukan sebagai persoalan yang tidak menjadi tanggung jawab siapa pun, cukup diangkut oleh petugas kebersihan, maka selesailah perkara tersebut secara administratif. Tidak ada pihak yang secara sistematis mencatat berapa ton makanan yang terbuang, berapa rupiah yang hilang percuma, apalagi berapa besar emisi gas rumah kaca
yang dihasilkan dari tumpukan sisa makanan yang membusuk tersebut. Ada semacam kenyamanan tersembunyi dalam kondisi di mana kegagalan tidak pernah dituntut untuk dilaporkan secara terbuka.
Bisa kita lihat betapa rincinya laporan mengenai jumlah dapur yang beroperasi atau jumlah anak yang menerima manfaat program, lengkap dengan grafik, tabel, dan persentase yang disusun secara rapi dan meyakinkan. Namun begitu pertanyaan bergeser kepada hal yang lebih sederhana: berapa banyak makanan yang pada akhirnya tidak dimakan, tiba-tiba seluruh pihak terkait sibuk mencari alasan dan data yang dimaksud pun dinyatakan tidak tersedia. Padahal seharusnya di titik itulah pertanggungjawaban yang paling dibutuhkan. Kalau anggaran negara sudah dikeluarkan untuk membeli bahan pangan, memasak, dan mendistribusikannya, maka mengetahui berapa banyak yang berakhir sia-sia bukan sekadar detail teknis, tapi itu inti dari akuntabilitas itu sendiri. Tanpa angka itu, publik hanya diberi separuh laporan: bagian yang membanggakan saja yang ditampilkan, sementara bagian yang mengungkap ketidakefisienan sengaja dibiarkan gelap.
Green Accounting: Ketika Pemborosan Tak Pernah Masuk Neraca
Selama ini, neraca keuangan sebuah program hanya mencatat apa yang dibeli, apa yang dikeluarkan dan apa yang dihasilkan, tapi jarang sekali mencatat apa yang terbuang. Padahal pemborosan, terutama pemborosan pangan, bukan sekadar persoalan teknis dapur. Ia punya nilai ekonomi yang nyata, karena setiap butir nasi atau lauk yang berakhir di tempat sampah sesungguhnya adalah anggaran yang sudah dikeluarkan tanpa memberi manfaat apa pun. Ia juga punya dampak lingkungan yang nyata, karena sisa makanan yang membusuk turut menyumbang emisi gas rumah kaca. Namun karena kedua hal ini tidak pernah dimasukkan ke dalam pembukuan resmi, seolah-olah pemborosan itu tidak pernah terjadi atau setidaknya tidak perlu dipertanggungjawabkan.
Di sinilah green accounting menawarkan cara pandang yang berbeda. Alih-alih hanya menghitung input dan output yang menguntungkan, pendekatan ini mendorong agar kerugian lingkungan dan pemborosan sumber daya turut dicatat sebagai bagian dari biaya sesungguhnya suatu kegiatan. Dengan kata lain, green accounting berfungsi sebagai rem yang selama ini hilang: ia memaksa setiap pihak untuk melihat bukan hanya berapa banyak yang telah dicapai, tetapi juga berapa banyak yang telah disia-siakan dalam proses mencapainya. Tanpa rem semacam ini, program bisa
saja terlihat berhasil di atas kertas, padahal di baliknya tersembunyi pemborosan yang terus dibiarkan tumbuh tanpa pernah benar-benar diukur.
Langkah Konkret Penerapan Green Accounting pada Program MBG
- Wajibkan pencatatan sisa makanan di setiap dapur (SPPG) Setiap dapur pelaksana MBG perlu memiliki sistem pencatatan harian yang mengukur berapa banyak makanan yang tidak dihabiskan, baik yang tersisa di dapur maupun yang kembali dari sekolah.
- Konversi sisa makanan ke satuan yang bisa dibandingkan Data sisa makanan sebaiknya tidak berhenti di angka kilogram saja, tapi dikonversi ke nilai rupiah (berapa anggaran yang terbuang) dan estimasi emisi karbon (berapa jejak lingkungan yang dihasilkan). Dengan begitu, sisa makanan punya bobot yang setara dengan indikator keberhasilan lain yang biasa dilaporkan.
- Masukkan indikator pemborosan ke dalam laporan resmi program Selain laporan jumlah dapur beroperasi dan jumlah anak penerima manfaat, laporan berkala MBG semestinya juga memuat angka pemborosan makanan sebagai indikator wajib, bukan data tambahan yang sifatnya opsional atau hanya dilaporkan jika dipertanyakan.
- Tetapkan ambang batas toleransi sisa makanan Pemerintah atau pengelola program bisa menetapkan standar wajar, misalnya persentase maksimal sisa makanan yang masih bisa ditoleransi. Dapur yang secara konsisten melampaui ambang batas ini perlu dievaluasi, baik dari sisi perencanaan porsi, kualitas makanan, maupun kesesuaian dengan selera anak-anak.
- Gunakan data pemborosan untuk perbaikan perencanaan Data yang terkumpul semestinya tidak berhenti sebagai laporan pasif, tapi dipakai untuk menyesuaikan jumlah produksi, variasi menu, atau ukuran porsi di masing-masing wilayah, sehingga pemborosan bisa ditekan dari waktu ke waktu berdasarkan bukti, bukan asumsi.
Penutup
Program Makanan Bergizi Gratis dapat saja terus dipromosikan sebagai sebuah keberhasilan, namun keberhasilan yang tidak pernah disertai dengan penghitungan kerugiannya sendiri pada
akhirnya hanya akan menjadi keberhasilan yang bersifat administratif belaka. Green accounting dalam hal ini bukan dimaksudkan sebagai bentuk tuduhan, melainkan sebagai sebuah tawaran yang sederhana: apabila program ini memang sebaik yang selama ini diklaim, maka hal tersebut sepatutnya dapat dibuktikan dengan kesediaan untuk turut menghitung sisi yang selama ini luput dari perhatian. Selama hal tersebut belum dilakukan, setiap angka jutaan porsi yang selalu dibanggakan tetap layak untuk dipertanyakan kembali, yakni seberapa besar dari jutaan porsi tersebut yang pada kenyataannya hanya berpindah tempat dari dapur menuju tempat pembuangan akhir.
Referensi
ANTARA News. (2011, 12 Mei). Lebih satu miliar ton makanan terbuang setiap tahun. https://www.antaranews.com/berita/258258/lebih-satu-miliar-ton-makanan-terbuang-setiap- tahun
ANTARA News. (2025, 16 Desember). BGN: Pengolahan food waste MBG peluang keuntungan lewat kredit karbon. https://www.antaranews.com/berita/5307667/bgn-pengolahan-food-waste-mbg-peluang-keuntungan-lewat-kredit-karbon
Utami, L., & Malihah, E. (2025). Banyak makanan terbuang, MBG menambah persoalan lingkungan. The Conversation Indonesia. https://theconversation.com/banyak-makanan-terbuang-mbg-menambah-persoalan-lingkungan-266587
Yahya, U. H. D. (2026, 5 September). Food waste MBG tinggi, anak kelas bawah ikut tak memakan. Warta Ekonomi. https://wartaekonomi.co.id/read632720/food-waste-mbg-tinggi-anak-kelas-bawah-ikut-tak-memakan
Penulis: Rosalinda | Staff Biro Keuangan Hareudang Bandung
