
Kabupaten Karawang tengah mengalami transformasi sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Barat yang tidak lagi bertumpu pada sektor industri manufaktur, tetapi juga terus memperkuat sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah. Berdasarkan data kunjungan wisatawan periode 2024–2026, aktivitas pariwisata Kabupaten Karawang didominasi oleh wisata belanja dengan lebih dari 1,2 juta kunjungan setiap triwulan. Peningkatan mobilitas wisatawan tersebut secara langsung mendorong pertumbuhan aktivitas konsumsi dan memperkuat peran sektor kuliner sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman berwisata. Konsekuensinya, pelaku usaha dituntut meningkatkan kapasitas produksi pangan untuk memenuhi permintaan yang terus berkembang. Di balik pertumbuhan tersebut, muncul tantangan yang sering kali luput dari perhatian, yaitu meningkatnya potensi food loss dalam proses operasional serta food waste yang berasal dari sisa makanan pengunjung (plate waste), yang secara kumulatif memberikan tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah daerah.
Tantangan tersebut menjadi semakin strategis ketika dikaitkan dengan kapasitas pengelolaan persampahan Kabupaten Karawang. Dengan timbulan sampah yang mencapai sekitar 1.200 ton per hari, sementara kapasitas pengangkutan dan pengolahan baru mampu menangani sekitar 350 ton per hari, beban terhadap TPA Jalupang terus meningkat. Kondisi ini menegaskan bahwa pengelolaan persampahan tidak lagi cukup mengandalkan pendekatan hilir (end-of-pipe approach), tetapi memerlukan strategi pencegahan sejak sumber timbulan (upstream intervention). Dalam konteks pariwisata, sektor kuliner menjadi titik intervensi yang strategis karena berada pada simpul utama rantai produksi dan konsumsi pangan. Oleh karena itu, pengurangan food loss dan food waste tidak hanya berkontribusi terhadap penurunan timbulan sampah, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, serta memperkuat daya saing usaha kuliner sebagai bagian dari ekosistem pariwisata berkelanjutan.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Hareudang Bandung melalui Proyek AWIS TEPANG (A Wise Tourism Sustainable Plan Karawang) mengembangkan Diagnostic-Based Intervention Framework, sebuah kerangka intervensi berbasis bukti yang dirancang untuk memperkuat tata kelola food loss dan food waste pada sektor pariwisata. Pendekatan ini memadukan Research Design & Protocol, Operational Assessment, Food Loss and Food Waste Audit, Consumer Behavior Assessment, serta evaluasi sistem operasional dalam satu kerangka analitis yang komprehensif. Seluruh proses tersebut menghasilkan Evidence-Informed Recommendations yang tidak hanya mendukung peningkatan efisiensi operasional pelaku usaha, tetapi juga menyediakan dasar analitis bagi pemerintah daerah dalam memperkuat kebijakan pengurangan food waste sebagai bagian dari pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Sebagai institusi yang berfokus pada pengembangan Sustainable Food System, Hareudang Bandung menempatkan riset sebagai fondasi utama dalam setiap intervensi. Pendekatan yang dikembangkan tidak berhenti pada identifikasi permasalahan, tetapi berorientasi pada penyediaan decision-support framework yang mampu menerjemahkan data lapangan menjadi rekomendasi operasional dan kebijakan yang implementatif. Dengan demikian, pengelolaan food waste tidak lagi diposisikan sebagai agenda pengurangan sampah semata, melainkan sebagai strategi peningkatan efisiensi sistem pangan, penguatan daya saing sektor kuliner, serta instrumen untuk mendukung tata kelola destinasi wisata yang lebih berkelanjutan.
Sebagai implementasi dari Diagnostic-Based Intervention Framework, Hareudang Bandung melaksanakan Program Pendampingan Pelaku Usaha Kuliner dalam Audit Food Loss dan Food Waste di Kabupaten Karawang. Program ini dirancang sebagai implementasi awal untuk menguji efektivitas pendekatan berbasis bukti dalam konteks operasional sektor kuliner pariwisata, sekaligus menghasilkan pembelajaran yang dapat menjadi acuan bagi pengembangan model pengelolaan food waste di tingkat daerah.
Pendekatan yang diterapkan menempatkan audit food loss dan food waste bukan sekadar sebagai instrumen pengukuran timbulan sampah, melainkan sebagai bagian dari proses evaluasi kinerja operasional (operational performance evaluation). Melalui analisis berbasis data, pelaku usaha memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai sumber pemborosan pangan, pola konsumsi pelanggan, serta peluang peningkatan efisiensi yang selama ini belum teridentifikasi. Dengan demikian, food waste diposisikan sebagai indikator yang mencerminkan kualitas pengelolaan sistem pangan sekaligus menjadi dasar dalam merancang strategi perbaikan yang lebih terukur.
Hasil asesmen kemudian diterjemahkan menjadi rekomendasi yang berorientasi pada peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi pemanfaatan bahan baku, penguatan tata kelola produksi pangan, serta pengurangan kehilangan nilai ekonomi akibat pemborosan pangan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan food waste tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas usaha, pengendalian biaya operasional, dan penguatan daya saing sektor kuliner sebagai bagian dari ekosistem pariwisata.
Implementasi program dilaksanakan melalui kolaborasi strategis bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Karawang, Restoran Kaliwungu, dan Paguyuban Mojang Jajaka Kabupaten Karawang. Dinas Pariwisata Kabupaten Karawang berperan sebagai mitra pemerintah dalam mendorong integrasi pengelolaan food waste ke dalam agenda pembangunan pariwisata berkelanjutan. Restoran Kaliwungu menjadi mitra implementasi sekaligus lokasi pilot project untuk menguji penerapan kerangka intervensi yang dikembangkan. Sementara itu, Paguyuban Mojang Jajaka Kabupaten Karawang berperan sebagai mitra promosi dan edukasi publik dalam membangun kesadaran wisatawan mengenai konsumsi pangan yang lebih bertanggung jawab sebagai bagian dari budaya pariwisata berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa transformasi pengelolaan food waste memerlukan sinergi lintas sektor yang menghubungkan kebijakan publik, praktik operasional pelaku usaha, serta partisipasi masyarakat. Dalam konteks ini, Hareudang Bandung tidak hanya menjalankan fungsi sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai lembaga riset dan technical assistance yang menjembatani kebutuhan pemerintah dan pelaku usaha melalui penyediaan analisis, rekomendasi berbasis bukti, serta model intervensi yang dapat direplikasi pada berbagai destinasi wisata lainnya. Pendekatan tersebut menjadi landasan dalam mendorong pengelolaan food waste sebagai bagian integral dari pembangunan pariwisata yang lebih efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Pengalaman implementasi Proyek AWIS TEPANG menunjukkan bahwa pengelolaan food loss dan food waste memerlukan perubahan cara pandang. Selama ini, sisa makanan lebih sering diposisikan sebagai persoalan persampahan yang diselesaikan ketika limbah telah dihasilkan. Padahal, pendekatan berbasis data menunjukkan bahwa pemborosan pangan merupakan indikator efisiensi operasional yang dapat dikelola sejak awal proses bisnis. Ketika pelaku usaha memahami di mana, mengapa, dan bagaimana pemborosan terjadi, strategi pengurangan food waste tidak lagi menjadi beban tambahan, tetapi menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas operasional dan daya saing usaha.
Melalui kolaborasi antara Dinas Pariwisata Kabupaten Karawang, Restoran Kaliwungu, Paguyuban Mojang Jajaka Kabupaten Karawang, dan Hareudang Bandung, proyek ini menjadi langkah awal dalam membangun model pengelolaan food waste yang lebih terstruktur pada sektor pariwisata daerah. Pembelajaran yang dihasilkan membuktikan bahwa sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan lembaga riset mampu menghasilkan pendekatan yang tidak hanya relevan secara teknis, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendukung agenda pembangunan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Karawang.
Ke depan, pendekatan yang dikembangkan melalui Proyek AWIS TEPANG diharapkan dapat menjadi model percontohan (pilot model) bagi pengembangan praktik pengelolaan food loss dan food waste pada pelaku usaha kuliner lainnya di Kabupaten Karawang. Semakin banyak pelaku usaha yang mengadopsi pendekatan berbasis data dalam mengelola pemborosan pangan, semakin besar pula peluang untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi timbulan sampah organik, serta memperkuat citra Kabupaten Karawang sebagai destinasi wisata yang berkomitmen terhadap prinsip keberlanjutan.
Sebagai research and technical assistance institution di bidang Sustainable Food System, Hareudang Bandung membuka ruang kolaborasi bagi restoran, hotel, kafe, destinasi wisata, pemerintah daerah, maupun pemangku kepentingan lainnya yang ingin membangun sistem pengelolaan pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Melalui pendekatan berbasis riset, audit food loss dan food waste, serta pendampingan teknis yang terukur, Hareudang Bandung berkomitmen mendukung pelaku usaha kuliner di Kabupaten Karawang dalam mewujudkan operasional yang lebih produktif, bertanggung jawab, dan berdaya saing sebagai bagian dari transformasi pariwisata berkelanjutan.
Audit Food Waste Karawang dilakukan Hareudang Bandung untuk mendampingi pelaku usaha kuliner melalui pendekatan profit leakage guna meningkatkan efisiensi operasional dan mendukung pariwisata berkelanjutan
Author : Yoga Fauzan Renardi S.Hub.Int | Founder & Strategic Advisor Hareudang Bandung
