
Kota bandung merupakan salah satu kawasan metropolitan yang menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan ketahanan pangan perkotaan. Pesatnya pertumbuhan penduduk ini diiringi dengan perkembangan kawasan permukiman, industri, dan infrastruktur yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan pertanian. Akibatnya, ketersediaan lahan produktif untuk kegiatan pertanian semakin terbatas, sementara kebutuhan pangan masyarakat terus meningkat dari tahun ke tahun.
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung (2026), jumlah penduduk Kota Bandung pada tahun 2026 mencapai 2.569.102 jiwa, dimana laju pertumbuhan penduduk tercatat sebesar 0,87% per tahun, sedangkan kepadatan penduduk mencapai 15.355 jiwa/km², menjadikan Kota Bandung sebagai salah satu kota dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di Indonesia. Bahkan, Kecamatan Babakan Ciparay merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak, yaitu 146.483 jiwa (BPS Kota Bandung, 2026). Tingginya jumlah dan kepadatan penduduk tersebut menyebabkan permintaan terhadap pangan terus meningkat, sementara kapasitas produksi pangan di dalam kota semakin terbatas.
Di sisi lain, sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat Kota Bandung masih dipasok dari wilayah penyangga (hinterland) seperti Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Garut, Cianjur, dan Subang. Ketergantungan terhadap daerah pemasok tersebut menunjukkan bahwa sistem pangan Kota Bandung masih rentan terhadap berbagai gangguan, seperti perubahan iklim, alih fungsi lahan di daerah produsen, maupun hambatan distribusi pangan (Dwiartama et al., 2020). Oleh karena itu, diperlukan berbagai inovasi yang mampu meningkatkan ketersediaan pangan di kawasan perkotaan tanpa bergantung sepenuhnya pada perluasan lahan pertanian.

Salah satu inovasi yang berkembang pesat adalah hidroponik, yaitu sistem budidaya tanpa memerlukan tanah, dan lahan yang luas, hanya dengan memanfaatkan larutan nutrisi dalam air sebagai media tanam. Sistem ini dinilai mampu untuk mengatasi keterbatasan lahan sehingga banyak diterapkan dalam konsep urban farming (Iqbal et al., 2024). Perkembangan teknologi digital juga melahirkan konsep smart farming, yaitu sistem pertanian yang memanfaatkan Internet of Things (IoT), sensor, otomatisasi, dan analisis data untuk meningkatkan efisiensi serta produktivitas budidaya tanaman (Gyamfi et al., 2024). Meskipun demikian, hidroponik belum mampu menjadi solusi utama dalam memenuhi kebutuhan pangan Kota Bandung. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan perkotaan merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar peningkatan produksi sayuran.
Potensi Hidroponik dan Smart Farming dalam Pertanian Perkotaan
Hidroponik menjadi salah satu inovasi pertanian yang berkembang pesat di berbagai kota besar karena mampu menjawab keterbatasan lahan akibat urbanisasi. Berbeda dengan sistem budidaya konvensional, hidroponik memanfaatkan air yang diperkaya larutan nutrisi sebagai media tumbuh tanaman sehingga tidak memerlukan tanah. Sistem ini memungkinkan masyarakat memanfaatkan pekarangan sempit, atap bangunan (rooftop), halaman sekolah, hingga ruang terbatas lainnya untuk menghasilkan sayuran segar secara mandiri (Iqbal et al., 2024).
Keunggulan hidroponik tidak hanya terletak pada efisiensi penggunaan lahan, tetapi juga pada penggunaan air yang lebih hemat karena sistem sirkulasi mampu mengurangi kehilangan air akibat penguapan maupun infiltrasi. Selain itu, lingkungan budidaya yang lebih terkontrol membuat tanaman relatif lebih terlindungi dari gulma dan beberapa penyakit yang berasal dari tanah sehingga kualitas hasil panen menjadi lebih baik (Iqbal et al., 2024).
Perkembangan teknologi digital turut memperkuat potensi hidroponik melalui penerapan konsep smart farming. Teknologi ini memanfaatkan sensor, Internet of Things (IoT), sistem otomatisasi, dan analisis data untuk memantau kondisi tanaman secara real time, seperti pH larutan nutrisi, Electrical Conductivity (EC), suhu, kelembapan udara, hingga volume air. Dengan sistem tersebut, petani dapat mengambil keputusan budidaya secara lebih cepat dan tepat sehingga efisiensi penggunaan air, pupuk, tenaga kerja, serta produktivitas tanaman dapat meningkat (Gyamfi et al., 2024).
Kota Bandung, penerapan hidroponik berbasis smart farming mulai berkembang melalui berbagai program pemerintah, komunitas, institusi pendidikan, maupun pelaku usaha. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan sistem hidroponik berbasis IoT di Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, yang mampu meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus menjadi media edukasi bagi masyarakat mengenai pertanian modern (Seliwati et al., 2025). Hal ini menunjukkan bahwa hidroponik memiliki potensi besar sebagai salah satu komponen pendukung ketahanan pangan perkotaan.
Mengapa Hidroponik Belum Menjadi Solusi Pangan Kota Bandung?
- Skala Produksi Masih Terbatas
Walaupun jumlah instalasi hidroponik di Kota Bandung terus bertambah, sebagian besar masih diterapkan pada skala rumah tangga, komunitas, sekolah, atau usaha mikro. Produksi yang dihasilkan umumnya hanya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga atau dipasarkan dalam jumlah terbatas. Sementara itu, kebutuhan pangan Kota Bandung yang dihuni lebih dari 2,5 juta penduduk memerlukan sistem produksi dengan kapasitas yang jauh lebih besar. Oleh karena itu, kontribusi hidroponik terhadap pemenuhan kebutuhan pangan kota secara keseluruhan masih relatif kecil dibandingkan pasokan dari wilayah penyangga (Dwiartama et al., 2020). - Jenis Komoditas yang Dapat Dibudidayakan Masih Terbatas
Hidroponik sangat efektif digunakan untuk membudidayakan sayuran daun seperti selada, pakcoy, kangkung, bayam, dan kailan. Namun, sistem ini belum ekonomis untuk diterapkan pada komoditas pangan pokok seperti padi, jagung, kedelai, singkong, maupun tanaman umbi lainnya dalam skala produksi besar. Padahal komoditas tersebut merupakan sumber utama kebutuhan energi masyarakat Indonesia. Dengan demikian, hidroponik belum mampu menggantikan peran pertanian konvensional dalam menyediakan pangan pokok (Dutta et al., 2025). - Investasi dan Biaya Operasional Relatif Tinggi
Penerapan hidroponik memerlukan investasi awal yang cukup besar, mulai dari instalasi pipa, pompa air, bak nutrisi, greenhouse, hingga perangkat sensor apabila menggunakan konsep smart farming. Selain itu, biaya operasional seperti listrik, nutrisi, perawatan pompa, dan penggantian komponen juga perlu diperhitungkan. Kondisi tersebut menyebabkan hidroponik belum mudah diadopsi oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama bagi kelompok dengan keterbatasan modal (Seliwati et al., 2025). - Ketergantungan terhadap Teknologi
Sistem hidroponik modern sangat bergantung pada teknologi. Gangguan listrik, kerusakan pompa, atau kesalahan dalam pengaturan nutrisi dapat menyebabkan tanaman mengalami stres bahkan gagal panen dalam waktu singkat. Oleh karena itu, keberhasilan budidaya hidroponik memerlukan dukungan infrastruktur dan kemampuan teknis yang memadai, sehingga penerapannya belum dapat dilakukan secara merata oleh seluruh masyarakat (Dutta et al., 2025). - Ketahanan Pangan Tidak Hanya Ditentukan oleh Produksi
Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan pangan, tetapi juga mencakup aspek ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas pangan (FAO, 2008). Dalam konteks Kota Bandung, tantangan utama bukan hanya meningkatkan produksi pangan lokal, tetapi juga menjaga kelancaran distribusi, stabilitas harga, dan akses masyarakat
terhadap pangan bergizi. Produksi hidroponik yang masih terbatas belum mampu menggantikan sistem distribusi pangan dari wilayah penyangga apabila terjadi gangguan pasokan. Dengan demikian, pembangunan ketahanan pangan harus dilakukan melalui pendekatan sistem pangan secara menyeluruh, bukan hanya melalui peningkatan produksi sayuran.
Peluang Smart Farming dalam Membangun Ketahanan Pangan Bandung Raya
Meskipun belum mampu menjadi solusi utama, hidroponik berbasis smart farming tetap memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan perkotaan. Pemanfaatan teknologi digital mampu meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, mengurangi kehilangan hasil, serta memungkinkan proses budidaya dilakukan secara lebih presisi (Gyamfi et al., 2024).
Selain itu, hidroponik dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya produksi pangan mandiri, terutama di lingkungan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. Pengembangan hidroponik juga mampu menciptakan peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat ketahanan pangan rumah tangga melalui penyediaan sayuran segar yang berkualitas (Seliwati et al., 2025).
Pembangunan ketahanan pangan Kota Bandung sebaiknya tidak hanya berfokus pada pengembangan hidroponik, tetapi juga mengintegrasikan berbagai strategi, seperti perlindungan lahan pertanian di wilayah peri-urban, penguatan rantai pasok pangan, pemanfaatan teknologi digital, diversifikasi pangan lokal, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Pendekatan yang terpadu akan menghasilkan sistem pangan perkotaan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Sumber Referensi
- Badan Pusat Statistik Kota Bandung (2026) Kota Bandung Dalam Angka 2026. Bandung: Badan Pusat Statistik Kota Bandung.
- Dutta, M., Gupta, D., Tharewal, S., Goyal, D., Sandhu, J.K., Kaur, M., Alzubi, A.A. and Alanazi, J.M. (2025) ‘Internet of Things-Based Smart Precision Farming in Soilless Agriculture: Opportunities and Challenges for Global Food Security’, arXiv preprint. Available at: https://arxiv.org/abs/2503.13528 (Accessed: 29 June 2026).
- Dwiartama, A., Tresnadi, C., Furqon, A. and Pratama, M.F. (2020) ‘Membangun Ketahanan Pangan Melalui Gerakan Pangan Lokal: Studi Kasus di Kota Bandung’, Jurnal Sosioteknologi, 19(1), pp. 92–106.
- Food and Agriculture Organization (FAO) (2008) An Introduction to the Basic Concepts of Food Security. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations.
- Gyamfi, E.K., ElSayed, Z., Kropczynski, J., Yakubu, M.A. and Elsayed, N. (2024) ‘Agricultural 4.0 Leveraging on Technological Solutions: Study for Smart Farming Sector’, arXiv preprint. Available at: https://arxiv.org/abs/2401.00814 (Accessed: 29 June 2026).
- Iqbal, M., Kahar and Kamaludin, A. (2024) ‘Menanam dengan Metode Hidroponik untuk Memperkuat Ketahanan Pangan di Kelurahan Sukarame’, Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Indonesia, 3(2).
- Seliwati, S., Sufyana, C.M., Adji, W.H., Nurzaman, R., Rifaldi, A. and Majdina, U. (2025) ‘Penggunaan Smart Hydroponic System Berbasis IoT untuk Meningkatkan Efisiensi Pertanian Perkotaan di Kelurahan Maleer Kecamatan Batununggal Kota Bandung’, PADMA, 5(2), pp. 399–413.
Author : Syaima Fitriya (Staff Kerja Sama Akademisi dan Komunitas)
