Kenapa Harga Pangan Semakin Mahal? Mengurai Biaya Produksi, Distribusi, dan Inflasi

Kenaikan harga kebutuhan pokok telah menjadi isu krusial yang dampaknya secara langsung memengaruhi keseharian kita. Pada tahun 2025 hingga awal 2026 ini, fenomena naiknya harga pangan (inflasi) di kawasan Jawa Barat, dan secara spesifik di Kota Bandung, menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dan berlawanan. Data statistik mencatat bahwa pada Mei 2026, tingkat inflasi tahunan (year-on-year) Kota Bandung menyentuh angka 3,32%, menjadikannya wilayah dengan inflasi tertinggi di antara kota/kabupaten lain di Jawa Barat. Ternyata pengeluaran  makanan,  minuman,  dan  tembakau  teridentifikasi  sebagai penyumbang andil terbesar, merepresentasikan lebih dari setengah total inflasi kota tersebut.

Situasi ini memunculkan sebuah pertentangan ekonomi yang serius. Di satu sisi, indikator makro ekonomi Jawa Barat mencatatkan pertumbuhan yang sangat positif, di mana perekonomian tumbuh sebesar 5,23% pada triwulan II 2025 dan terus naik hingga menyentuh 5,85% pada triwulan IV 2025. Namun di sisi lain, daya beli asli masyarakat untuk kebutuhan dasar justru mengalami tekanan hebat. Analisis terhadap pola konsumsi warga Kota Bandung menunjukkan bahwa belanja per orang per bulan untuk kategori makanan dan minuman mengalami penurunan drastis sebesar 14,3% pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2024

Indikator konsumsi dan Inlfasi KotaBandungTahun 2024Tahun 2025Perubahan
Belanja Makanan &Minuman Jadi ( PerOrang Per Bulan)Rp383.693Rp328.834-14,3%
Inlfasi Tahunan KotaBandung0,618%2,698%2,08%

(Diadaptasi dari Laporan Badan Pusat Statistik)

Kondisi di atas menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak serta-merta dirasakan oleh masyarakat bawah (trickle-down effect). Sebaliknya, masyarakat terpaksa melakukan rasionalisasi konsumsi dengan mengurangi pembelian akibat naiknya harga pangan yang membebani daya beli. Untuk memahami struktur pembentuk harga yang mencekik konsumen tanpa memberikan kesejahteraan yang proporsional bagi petani, permasalahan ini menuntut pembedahan secara komprehensif melalui kacamata akuntansi manajemen dan keberlanjutan.

Akar Permasalahan: Rantai Logistik yang Ribet dan Rentannya Produksi

Tingginya harga pangan di tingkat konsumen sering kali tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan petani di tingkat hulu. Ketimpangan ini berawal dari banyaknya pemborosan di sepanjang rantai pasok (supply chain). Secara garis besar, biaya produksi dan distribusi pertanian di Indonesia menghadapi tantangan berat berupa panjangnya prosedur tata niaga pangan.

Bayangkan sebuah komoditas pertanian seperti sayuran segar. Sebelum sampai ke konsumen, produk tersebut dapat melewati beberapa tahapan distribusi. Tahapan tersebut mencakup petani, kelompok tani, pengepul, pedagang besar, hingga akhirnya tiba di tangan pedagang kecil atau pengecer. di setiap tahapan ini pasti mengambil margin keuntungan dan menambahkan biaya transportasi. Akibatnya, harga jual ke konsumen jadi berlipat-lipat ganda.

Selain ketidak efisienan logistik yang Panjang, sektor pangan juga menghadapi eksternalitas lingkungan. Iklim dan cuaca ekstrem sering kali merusak pola tanam dan menekan jumlah hasil sayur di wilayah Jawa Barat. Ketika pasokan menyusut di tengah tingkat permintaan yang tinggi, mekanisme pasar secara otomatis akan menarik harga ke atas. Masalah ini diperburuk oleh minimnya infrastruktur pascapanen, yang memicu tingginya tingkat kehilangan pangan (food loss) dalam perjalanan logistik

Analisis Perspektif Keilmuan Akuntansi terhadap Sistem Pangan

Dalam sistem akuntansi biasa, pembebanan biaya logistik sering kali dilakukan secara keseluruhan tanpa menelusuri aktivitas spesifik mana yang paling banyak menyerap sumber daya. Pendekatan ini menyembunyikan titik-titik ketidak efisienan. Oleh karena itu, diperlukan serangkaian instrumen analisis akuntansi strategis untuk mengurai dan merumuskan solusi atas mahalnya harga pangan.

Activity-Based Costing (ABC) dalam Mengurai Biaya Logistik

Metode Activity-Based Costing (ABC) menawarkan kerangka kerja yang terstruktur untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengalokasikan biaya berdasarkan aktivitas nyata yang mengonsumsi sumber daya dalam rantai pasok. Penerapan ABC sangat penting karena membantu entitas agribisnis memahami struktur biaya riil dari setiap pelaksanaan logistik seperti pengadaan, penanganan bahan (material handling), penyimpanan, dan transportasi.

Kajian lapangan terhadap rantai pasok komoditas sayur membuktikan efektivitas metode ini. Hasil kalkulasi menggunakan pendekatan ABC menemukan bahwa total biaya logistik dapat mencapai Rp7.705,88/kg. Yang mengejutkan, dari total biaya tersebut, sekitar 65,8% habis terserap hanya untuk aktivitas (material handling) yang berulang-ulang di setiap prosedur distribusi.

Komponen Aktivitas LogistikProporsi Biaya LogistikKeterangan Aktivitas Utama
Material handling65,8%Angkat muat, pengemasan ulang. Dan penyortiran di tiaptingkatan distribusi
Pengadaan & Transportasi34,2%Biaya bahan bakar,Penyusutan kendaraan.Pemeliharaan, dan inventori

(Rincian Proporsi Biaya Logistik pada Rantai Pasok Sayuran Menggunakan Metode ActivityBased Costing).

Melalui lensa ABC, aktivitas (material handling) yang terjadi pada saat perpindahan barang dagangan dari pemasok ke pedagang besar diidentifikasi sebagai aktivitas yang tidak memberikan nilai apa-apa (non-value-added activities). Aktivitas ini tidak meningkatkan kualitas produk, melainkan justru memperbesar risiko kerusakan fisik yang berujung pada kehilangan hasil. Penghapusan beberapa tingkat perantara akan secara drastis menekan biaya pemicu (cost driver) ini, sehingga entitas pertanian dapat menghapus pemborosan dan meningkatkan keunggulan bersaing (competitive advantage) sekaligus menurunkan harga jual di tingkat konsumen.

Cost Benefit Analysis (CBA) pada Infrastruktur Pascapanen

Lalu, bagaimana caranya agar harga tidak gampang naik turun? Untuk mengatasi ketidak stabilan harga, integrasi Cost Benefit Analysis (CBA) sangat diperlukan, khususnya dalam mengevaluasi investasi infrastruktur sistem pangan seperti fasilitas pendingin (cold storage). CBA adalah rasio yang membandingkan total biaya yang dikeluarkan (investasi awal dan operasional) dengan total manfaat yang diestimasikan penurunan tingkat kerugian dan optimalisasi harga jual.

Kondisi nyata di lapangan menunjukkan bahwa saat musim panen raya, harga di tingkat petani anjlok karena melimpahnya pasokan yang cepat membusuk. Sebaliknya, saat musim kemarau, masyarakat menanggung harga yang sangat mahal. Jika kelompok tani di Jawa Barat difasilitasi dengan infrastruktur cold storage, analisis CBA menunjukan bahwa meskipun belanja modal (capital expenditure) di awal tergolong tinggi, tetapi untung untuk hasil jangka panjangnya jauh lebih menjanjikan. Fasilitas ini mencegah sayuran terbuang sia-sia begitu saja dan memungkinkan sistem tunda jual (inventory holding), yang bertindak sebagai stabilisator harga di pasar.

Green Accounting dan Sustainability Accounting sebagai Fondasi Keberlanjutan

Masalah mahalnya harga pangan merupakan akibat dari kegagalan sistem pasar dalam memperhitungkan biaya akibat kerusakan lingkungan. Cara bertani yang tidak ramah lingkungan dan proses logistik yang panjang menghasilkan jejak karbon yang masif serta degradasi lahan yang memperburuk produktivitas di masa depan.

(Green Accounting) Akuntansi Hijau hadir untuk menginternalisasi biaya-biaya lingkungan hidup (environmental costs) ke dalam laporan keuangan perusahaan agribisnis. Dengan cara pandang ini, kerugian ekologis maupun finansial akibat limbah pangan (food loss and waste) dihitung secara jelas sebagai pengurang profitabilitas. Perusahaan yang menerapkan akuntansi hijau terbukti terdorong untuk berinvestasi pada tata kelola lingkungan, seperti efisiensi manajemen limbah dan transportasi ramah lingkungan, yang pada jangka menengah berkorelasi positif dengan efisiensi biaya dan kinerja keuangan.

Sebagai penyempurnaan, (Sustainability Accounting) Akuntansi Keberlanjutan tidak hanya mengukur dampak lingkungan, tetapi juga merangkum aspek keadilan sosial dan tata kelola (ESG). Dalam konteks pangan, akuntansi keberlanjutan menuntut transparansi mengenai apakah struktur biaya yang ada mampu memberikan upah hidup yang layak bagi petani, sembari menjaga stabilitas harga ritel agar akses masyarakat terhadap pangan sehat tidak terputus akibat tergerusnya daya beli.

Alternatif Solusi Implementatif

Berdasarkan sintesis antara realitas menurunnya daya beli masyarakat Kota Bandung dan kerangka konseptual akuntansi manajerial, intervensi penyelesaian masalah tidak bisa sekadar bergantung pada operasi pasar instan. Berikut adalah rekomendasi strategis yang implementatif:

  1. Restrukturisasi Rantai Pasok Berbasis Data ABC

Pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi dan UMKM perlu mendampingi Kelompok Tani atau Koperasi Unit Desa (KUD) dalam menerapkan sistem Activity-Based Costing. Dengan pemetaan biaya yang transparan, KUD dapat mendeteksi ketidakefisienan dan mengambil alih peran material handling, memangkas jalur perantara, dan melakukan penetrasi langsung ke pasar ritel atau platform e-grocery.

  1. Penerapan Collaborative Planning, Forecasting, and Replenishment (CPFR)

Sistem logistik pangan di Jawa Barat harus mengadopsi model CPFR yang mengintegrasikan informasi lintas pelaku rantai pasok. Berbagi data mengenai prakiraan cuaca, volume panen harian, dan tren permintaan riil dapat mencegah (over-supply) yang merugikan petani maupun (stock-out) yang memicu lonjakan inflasi.

  1. Pengintegrasian Green Accounting dalam Syarat Pembiayaan Agribisnis Lembaga perbankan, dalam menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian, disarankan mulai mensyaratkan indikator (Sustainability Accounting). Pembiayaan difokuskan pada pelaku usaha yang menerapkan sistem tata kelola limbah pangan yang baik dan metode distribusi berkelanjutan guna menjaga kelestarian ekosistem hulu jangka panjang.

Kesimpulan

Inflasi pangan yang tinggi di tengah pertumbuhan ekonomi positif di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, pada periode 2025-2026 merupakan bukti nyata adanya inefisiensi struktural dalam tata niaga kebutuhan pokok. Menurunnya daya beli masyarakat memperlihatkan bahwa rantai pasok konvensional terlalu sarat dengan aktivitas non-esensial, yang terkonfirmasi oleh dominannya biaya material handling dalam analisis Activity-Based Costing. Tanpa adanya intervensi berbasis data seperti evaluasi investasi infrastruktur pascapanen melalui Cost Benefit Analysis serta penerapan Green Accounting dan Sustainability Accounting untuk memitigasi dampak lingkungan harga pangan akan terus melonjak secara tidak rasional. Oleh karena itu, rekonstruksi rantai pasok yang adil, efisien, dan transparan mutlak diperlukan guna meredam kenaikan harga pokok sekaligus memastikan terdistribusinya margin keuntungan yang etis bagi para petani sebagai aktor utama sistem pangan.!

FAQ

Mengapa harga pangan di Kota Bandung mencatatkan inflasi tinggi meski pertumbuhan ekonominya positif di 2025-2026?

Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menurunkan harga barang. Tingginya inflasi pangan dipengaruhi oleh anomali cuaca yang menekan suplai komoditas hortikultura, dipadukan dengan panjangnya jalur distribusi dari petani hingga ritel yang merakumulasi biaya logistik. Hal ini terbukti dari merosotnya porsi belanja makanan warga hingga 14,3 persen meski ekonomi makro tumbuh.

Apa peran metode Activity-Based Costing (ABC) dalam menurunkan harga pangan?

ABC adalah instrumen akuntansi yang mengidentifikasi biaya secara presisi berdasarkan aktivitas riil (seperti angkat-muat, transportasi, dan penyimpanan). Melalui ABC, pelaku usaha dapat mendeteksi bahwa lebih dari 65% biaya logistik pangan menguap pada penanganan bahan di berbagai lapis perantara, sehingga efisiensi pemangkasan rantai dapat dilakukan secara terukur.

Bagaimana Green Accounting dan Sustainability Accounting berkontribusi terhadap stabilisasi daya beli masyarakat?

Akuntansi Hijau dan Keberlanjutan memastikan bahwa kerugian akibat pangan yang terbuang dan kerusakan lingkungan dihitung sebagai kerugian finansial. Dengan demikian, korporasi dan sistem logistik akan berinvestasi pada pencegahan limbah pangan (food loss) dan perlakuan etis terhadap petani, yang pada akhirnya menstabilkan suplai jangka panjang dan menjaga harga eceran tetap terjangkau oleh daya beli konsumen.

Mari Bergerak untuk Pangan yang Lebih Berkelanjutan

Kenaikan harga pangan adalah bagian dari persoalan yang lebih besar dalam sistem pangan. Dengan memahami food loss, food waste, efisiensi rantai pasok, dan keberlanjutan, kita dapat mulai mendorong perubahan dari tingkat individu hingga sistem.

Temukan lebih banyak informasi, program, dan gerakan penyelamatan pangan bersama Hareudang Bandung.

🌱 Kunjungi Hareudang Bandung dan temukan bagaimana kamu bisa ikut bergerak.

Referensi

  1. Berdasarkan data BPS Kota Bandung, inflasi tahunan Kota Bandung pada Mei 2026 mencapai 3,32%. Laporan Inflasi Kota Bandung Tahun 2024-2026 dan Analisis Penurunan Pengeluaran Per Kapita.
  2. Bank Indonesia. (2025-2026). Laporan Perekonomian Provinsi Jawa Barat Edisi Mei, Agustus, dan Februari 2026: Evaluasi Pertumbuhan Makro dan Inflasi Regional.
  3. R. Sundari. (2020). Activity Based Costing dan Supply Chain Management Terhadap Keunggulan Bersaing. Jurnal Riset Akuntansi Kontemporer, Vol. 12(2).
  4. Zubair, H. M.,et al. (2024). Penerapan Metode Activity Based Costing Dalam Penentuan Harga Pokok Produksi. JATAMA: Jurnal Akuntansi Pratama, Vol. 1(2).
  5. Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri. (2020). Analisis Struktur Biaya Logistik Rantai Pasok Sayur Menggunakan Metode Activity-Based Costing.
  6. Hartono, W.N., et al. (2024). Analisis Biaya Logistik Menggunakan Metode Activity-based Costing. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Inovasi dan Kolaborasi Disiplin Ilmu.
  7. Jurnalku. (2025). Eksplorasi Dampak Penerapan Green Accounting terhadap Kinerja Lingkungan dan Finansial di Indonesia.
  8. Lestari, et al., & Wiredu, et al. (2024). The Implementation of Green Accounting in Indonesia: A Case Study. Journal of Sustainability Social Business.

Penulis: Selma Nurfauziah | Staff Manajemen Operasional Hareudang Bandung

2 thoughts on “Kenapa Harga Pangan Semakin Mahal? Mengurai Biaya Produksi, Distribusi, dan Inflasi”

  1. Pingback: Sistem Pengelolaan Food Waste Restoran: Kurangi Pemborosan dan Profit Leakage - Hareudang Bandung

  2. Pingback: Sawah Masih Ada, tetapi Petaninya Semakin Tua: Bagaimana Strategi Manajemen SDM Menjawab Krisis Regenerasi Petani Indonesia? - Hareudang Bandung

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top