
Coba bayangkan di pagi hari ada sebuah desa yang sawahnya masih terlihat sangat hijau dan asri, irigasinya yang masih mengalir dengan lancar dan musim panen datang seperti biasanya. Semuanya kelihatan baik baik saja tanpa ada yang terganggu sedikitpun. Tapi kalau kita benar benar melihat secara lebih dekat siapa yang benar benar terjun ke sawah setiap harinya?. Kita pasti sadar bahwa jarang ada yang melihat anak muda turun ke sawah, seringnya kita melihat hampir semuanya wajah – wajah yang sudah berumur.
Dari Data Pusat Statistik memperlihatkan di Indonesia memiliki beberapa kategori usia yang umumnya masuk ke kategori petani, data tersebut berlandaskan pada data sensus pertanian dari Badan Pusat Statistik yang diterbitkan pada tahun 2023. BPS menyebutkan bahwa, kategori petani di Indonesia didominasi mulai dari usia 45 sampai 54 tahun, sedangkan untuk spesifiknya didominasi oleh usia 55 tahun dengan akurasi 39%. Data tersebut diperkuat oleh Nurani (2025), beliau menyebutkan bahwa Gen Z dan Gen Milenial turut berpartisipasi tapi dalam skala yang kecil di di angka 3%. Dibalik itu, Gen Milenial paling banyak menyumbang di angka 25,61% dalam industri pertanian yang ada di Indonesia. Data tersebut dapat menjadi bukti konkret secara sistematik dari adanya perubahan yang signifikan tiap zaman hingga saat ini. Apabila data tersebut dibiarkan tanpa adanya suatu perbaikan, tentunya dapat menyebabkan ketidakstabilan produksi pangan nasional dalam jangka panjang tanpa adanya inovasi yang dapat membangun suatu perubahan.
Fenomena yang sering kita dengar sekarang yaitu “petani menua” atau biasa kita kenal dengan aging farmers, fenomena ini juga ternyata banyak terjadi negara selain di Indonesia. Tapi di Indonesia kasusnya sangat darurat karena sektor pertanian masih menampung sekitar 28% tenaga kerja nasional (BPS, dalam Antara News, 2024). Hal ini berarti bahwa, kalau regenerasi petani di Indonesia ini terus berhenti, yang terancam bukan cuman nasib di desa- desa penghasil padi saja, tapi ketahanan pangan di seluruh negeri selain di Indonesia. Dan di artikel inilah saya ingin mengajak pembaca membuka mata tentang persoalan ini dari sudut yang jarang terlihat. Bukan masalah sektor pertanian belaka, tetapi sebagai akar permasalahan pengelolaan manusia atau kalau dibilang gampangnya: ini soal orang – orang yang belum “diurus” dengan cara yang pas.
Ketika Sawah Kalah Menarik dari Kantor ber-AC
Kalau saya bertanya balik kepada diri saya sendiri, jika seandainya saya dibesarkan di desa dan dihadapkan dengan pertanyaan kerja menjadi petani atau kerja di kantoran, jujur jika untuk memilih salah satu pilihan itu sangat berat rasanya. Pemahaman bahwa terjun ke sektor pertanian itu emang masih melekat kuat dikenal dengan kemiskinan, kurang bergengsi dan sedikit jaminan kesejahteraan. Ditambah keterbatasan akses modal. teknologi dan pembinaan usaha, berprofesi sebagai petani jadi terkesan sebagai jalan buntu, bukan sesuatu yang bisa berkembang menjadi jalur karier sebagai jangka panjang.
Dan menariknya, saya membandingkan dengan apa yang sudah saya pelajari di kuliah saya yaitu manajemen SDM, pola ini sebenarnya sangat familiar. Coba kita pikirkan pekerjaan apapun kalau citranya kurang bagus (employer branding), tidak ada gambaran yang jelas soal masa depannya, gajinya pas-pasan dan tidak ada potensi untuk berkembang, pasti orang lain mikir dua kali sebelum mau masuk ke pekerjaan tersebut. Tanpa kita sadari, begitulah pemikiran yang sedang dialami oleh sektor pertanian kita apalagi pada Generasi Z. Cuman bedanya, masalah ini terjadi dalam skala satu negara saja.
Rata – rata banyak keluarga di desa, orang tua nya justru menyuruh anaknya sekolah dengan tinggi – tinggi supaya “tidak jadi petani seperti bapak ibunya”. Profesi petani dipandang sebagai pilihan pekerjaan terakhir, bukan dianggap cita-cita. Padahal kalau dipikir-pikir, cara pandang pemikiran seperti ini bukan muncul begitu saja, melainkan lahir dari pengalaman yang panjang dimana bertani memang tidak pernah benar – benar memberikan jaminan hidup yang layak. Wajar saja kalau Generasi berikutnya jadi oga – ogahan mengulang jalan yang sama.
Didukung oleh faktor lain yang tidak kalah penting adalah kurangnya keterlibatan anak muda sejak dini dalam proses produksi pertanian. Banyak anak muda di desa yang tumbuh tanpa pernah benar -benar dilibatkan dalam pengelolaan lahan, paling cuman membantu saat panen saja. Maka akibatnya, mereka tidak sempat membangun keterikatan emosional atau keterampilan secara teknis terhadap sektor pertanian, sehingga saat dewasa, pilihan merantau ke kota terasa sangat jauh masuk akal dibandingkan dengan harus meneruskan sawah keluarga.
Menurut Anwarudin, Satria dan Fatchiya (2020) dalam penelitiannya soal proses dan pendekatan regenerasi petani menyebutkan bahwa persoalan regenerasi tidak bisa didekati dengan satu strategi tunggal, melainkan membutuhkan multistrategi yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, sekaligus kelembagaan. Artinya, keraguan anak muda menjadi petani memang bukan persoalan mudah yang bisa diselesaikan dengan satu kebijakan saja.
Apakah Anak Muda Benar-Benar Tidak Tertarik Menjadi Petani?

Sumber: Kompasiana, (2024) diakses dari Kompasiana.com
Jika dianalisis lebih dalam jumlah peminat di sektor pertanian itu di tahun 2013 petani usia 25-34 tahun turun dari 11,97% nenjadi cuman 10,94% pada tahun 2023. Yang artinya orang-orang yang usianya lagi produktif buat kerja malah makin sedikit yang mau jadi petani.
Begitu juga kelompok usia 35-44 tahun, turun dari 26,34% jadi 22,08%. Jadi bukan cuman petani lamanya yang menua, generasi penggantinya pun semakin sedikit yang mau masuk ke sektor pertanian.
Menurut Susilowati (2026) sudah lama mengingatkan bahwa penuaan para petani dan menyusutnya tenaga kerja muda akan sangat berdampak serius pada kebijakan pembangunan pertanian kalau dibiarkan. Sekarang, sebagian lahan mulai terbengkalai karena kurangnya tenaga produktif yang mau melanjutkannya. Untungnya, minat anak muda sebenarnya bisa ditumbuhkan oleh program YESS dari Kementan misalnya sudah menjangkau ratusan ribu pemuda desa, dengan puluhan ribu diantaranya benar – benar direkrut jadi tenaga kerja pertanian (Kantor Berita Sawit, 2025). Yang artinya, persoalannya bukan anak muda memang tidak tertarik, tapi belum ditarik dengan cara yang tepat.
Strategi Manajemen SDM yang Bisa Menjawab Krisis Ini
Kalau ditarik ke akarnya, ini soal 4 fungsi dasar manajemen SDM yang jarang diterapkan pada sektor pertanian rakyat misalnya, menarik minat orang untuk masuk (rekrutmen), membekali kemampuan (pelatihan), menjaga mereka bertahan (retensi) dan memberi penghargaan yang pantas (kompensasi).
Program seperti Petani Milenial, Duta Petani Milenial dan YESS adalah bentuk employer branding yang dimana itu membangun citra bahwa jadi petani itu pilihan karier yang menjanjikan, bukan sekedar “opsi pekerjaan terakhir” (Kumparan, 2023). Tapi rekrutmen saja tidak cukup selama citra petani di masyarakat belum ikut berubah. YESS memberikan pelatihan literasi keuangan dan kewirausahaan, bukan cuman teknik bertani saja (MTani Group, 2025). Ini penting karena petani muda tidak cukup hanya bisa menanam, tapi juga bisa mengelola hasil panennya menjadi usaha yang berkelanjutan. Hibah kompetitif dan penghasilan yang lebih kompetitif juga jadi cara membuat profesi ini bersaing dengan sektor formal lain (Baladdena.id, 2024). Bantuan diberikan lewat seleksi, bukan belaka saja. Akses KUR Pertanian memberi gambaran jelas bagaimana petani pemula bisa bertumbuh jadi pelaku agribisnis yang mapan (MTani Group, 2025). Sementara itu, digitalisasi dari aplikasi deteksi penyakit tanaman sampai sistem irigasi pintar jadi cara membuat sektor ini relevan di mata generasi di jaman sekarang, walaupun menurut Ilyas (2022) mengingatkan bahwa penggunaan internet di kalangan petani sendiri sebenarnya masih rendah, sehingga kesenjangan infrastruktur digital tetap perlu dituntaskan lebih dulu.
Apa Dampaknya Jika Regenerasi Petani Tidak Berjalan?
Krisis Regenerasi petani tidak akan pernah benar – benar terselesaikan hanya jika mengirimkan bibit, pupuk atau alat modern ke desa saja, melainkan jika selama para petani benar benar dikelola dengan baik, jenjang kariernya yang menarik dengan adanya rekrutmen yang meyakinkan, pelatihan yang rutin dilakukan sehingga untuk menjadi jangka panjang, kompensasi yang sepadan dan layak, serta jenjang usahanya yang jelas sehingga anak muda akan mulai melihat sawah bukan sebagai jalan buntu, melainkan sebagai peluang yang layak diperjuangkan.
Sawahnya memang masih ada. Tapi tanpa strategi SDM yang tepat, pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang akan mewarisi sawah itu, melainkan apakah masih akan ada yang mau mewarisinya sama sekali.
Tertarik Berkolaborasi dengan Hareudang Bandung?
Perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari satu kolaborasi, satu gagasan, dan satu langkah nyata. Mari berkolaborasi bersama Hareudang Bandung untuk membangun solusi yang berdampak bagi masyarakat dan lingkungan.
👉 Kunjungi website Hareudang Bandung dan kenali lebih jauh inisiatif serta peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama.
Daftar Pustaka
Anwarudin, O., Sumardjo, S., Satria, A., & Fatchiya, A. (2020). Proses dan pendekatan regenerasi petani melalui multistrategi di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 39(2), 73-85
Badan Pusat Statistik. (2023). Sensus Pertanian 2023. Jakarta: BPS.
Ilyas. (2022). Optimalisasi peran petani milenial dan digitalisasi pertanian dalam pengembangan pertanian di Indonesia. Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi, 24(2), 259-266.
Kantor Berita Sawit. (2025). Sebanyak 312.047 pemuda ikuti Program Petani Muda dari Kementrian Pertanian. Diakses dari https://sawitindonesia.com/sebanyak-312-047-pemuda-ikuti-program-petani-muda-dari-kementerian-pertanian/
Kumparan (Helmi, A.). (2023). Regenerasi Petani di Indonesia. Diakses dari https://kumparan.com/alfian-helmi-1672737948915546573/regenerasi-petani-di-indonesia-21qsopdYnhK
MTani Group. (2025). Regenerasi petani: Tantangan dan harapan di tengah transformasi pertanian Indonesia. Diakses dari https://mtanigroup.com/2025/08/11/regenerasi-petani-tantangan-dan-harapan-di-tengah-transformasi-pertanian-indonesia/
Rani, N. (2024). Ketahanan pangan di ujung tanduk: Krisis regenerasi petani di Indonesia [Policy brief]. Universitas Gadjah Mada.
Sumatera Selatan Antara News. (2024). Regenerasi petani untuk pertanian berkelanjutan. Diakses dari https://sumsel.antaranews.com/berita/760137/regenerasi-petani-untuk-pertanian-berkelanjutan
Susilowati, S.H. (2016). Fenomena penuaan petani dan berkurangnya tenaga kerja muda serta implikasinya bagi kebijakan pembangunan pertanian. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 34(1), 35-55.
Penulis: Putri Rizka Fathiyyah | Staf Biro Sumber Daya Manusia Hareudang Bandung
