Dampak Sampah Makanan terhadap Lingkungan: Perspektif Teknik Lingkungan dan Solusi Pengolahannya

Sampah makanan (food waste) merupakan salah satu limbah organik terbesar di dunia sekaligus penyumbang emisi gas rumah kaca yang besar, terutama gas metana yang terbentuk melalui dekomposisi anaerobic di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Artikel ini membahas persoalan food waste dari sudut pandang Teknik lingkungan yang mencakup skala timbulan secara nasional, mekanisme dampak lingkungan yang ditimbulkan, serta perbandingan teknologi pengolahan berbasis prinsip rekayasa yaitu pengomposan, bioremediasi dengan dengan larva black soldier fly (BSF), serta pendekatan life cycle assessment (LCA) untuk pengambilan Keputusan. Sekitar 13-19% produksi pangan dunia terbuang sepanjang rantai pasok hingga tingkat konsumen, dan sektor ini berkontribusi sekitar 8-10% dari total emisi gas rumah kaca antropogenik. Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi pengurangan di sumber, pemilahan, dan teknologi yang cocok untuk mengurangi nya.

Food Waste sebagai Tantangan Global dan Lingkungan

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), sekitar 13,2% pangan dunia hilang pada tahap pasca panen sebelum mencapai ritel. Sementara sekitar 17-19% lainnya terbuang pada Tingkat ritel, jasa boga, dan rumah tangga (Food and Agriculture Organization Of The United Nations, 2024). Data terbaru FAO bahkan mencatat bahwa persentase kehilangan pangan global relatif stagnan di kisaran 13,3% pada 2023, hal ini menunjukan bahwa dunia belum menunjukan kemajuan berarti sejak pemantauan global dimulai pada 2015. (Food and Agriculture Organization Of The United Nations, 2023). 

Dari perspektif teknik lingkungan, food waste bukan sekedar persoalan etika atau ketahanan pangan melainkan juga persoalan rekayasa pengelolaan limbah organik yang berdampak langsung pada kualitas udara, air, dan tanah. Dekomposisi anaerobik di TPA menghasilkan gas metana yang akan meningkatkan potensi pemanasan global puluhan kali lebih besar dibanding karbon dioksida. Food loss and waste (FLW) secara global diperkirakan menyumbang sekitar 8 hingga 10% dari total emisi gas rumah kaca antropogenik (Food and Agriculture Organization Of The United Nations, 2024).

Skala dan komposisi timbulan sampah makanan 

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat total timbulan sampah nasional pada 2024 mencapai 32,8 juta ton dari 303 kabupaten/kota yang telah melaporkan datanya (Prisca, 2025). Dari komposisi sampah nasional, sisa makanan merupakan kontributor terbesar yakni sekitar 40-41% dari total timbulan yang Sebagian besar berasal dari sektor rumah tangga (Rezza, 2023).

Mekanisme Dampak Lingkungan : Emisi Gas Metana dari TPA

Sampah organik yang tertimbun di TPA mengalami dekomposisi anaerobic akibat minimnya oksigen pada laporan dalam timbulan. Proses ini menghasilkan landfill gas (LFG) yang Sebagian besar terdiri dari metana dan karbon dioksida. Metana yang dihasilkan dari pembusukan sisa makanan di TPS memiliki potensi pemanasan global diperkirakan sekitar 25 kali lebih besar dibanding karbon dioksida dalam kurun waktu 100 tahun (Agincourt Resources, 2025). 

Apabila tidak dikelola dengan baik, sampah makanan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Dari sisi lingkungan, pembusukan bahan organik di TPA dapat mencemari air tanah, menimbulkan bau tidak sedap, dan bahkan meningkatkan risiko longsor di area penimbunan. Dari sisi sosial dan ekonomi, pemborosan makanan berarti juga pemborosan sumber daya mulai dari air, energi, hingga tenaga kerja yang telah digunakan untuk memproduksi makanan tersebut (Agincourt Resources, 2025).

Life Cycle Assessment (LCA) sebagai Pendekatan Teknik Lingkungan

Life Cycle Assessment (LCA) merupakan metode yang digunakan untuk mengevaluasi dampak lingkungan suatu produk, proses, atau layanan secara menyeluruh dari perolehan bahan baku hingga pembuangan akhir (cradle to grave) (ScienceDirect, 2005). Pendekatan ini banyak digunakan untuk membandingkan opsi pengelolaan sampah makanan secara objektif karena setiap teknologi pengolahan memiliki profile dampak lingkungan yang berbeda pada kategori seperti potensi pemanasan global, eutrofikasi, dan penggunaan energi.

Teknologi Rekayasa untuk Pengolahan dan Valorisasi Sampah Makanan

1. Bioremediasi dengan Larva Black Soldier Fly (BSFL)

Teknologi bioconversion menggunakan larva black soldier fly (BSFL) berkembang pesat sebagai Solusi berbasis prinsip ekonomi sirkular untuk mengolah sampah makanan menjadi biomassa larva bernilai ekonomi untuk pakan ternak/pakan ikan) sekaligus residu kompos. Studi tentang reactor self-separation kontinu berbasis BSFL untuk sampah makanan pedesaan di Tiongkok menunjukan bahwa pengoperasian metode batch Tunggal selama 10 hari mampu mengurangi berat basah sampah makanan hingga 38,9% dengan hasil biomassa larva sebesar 80,9 gram per kilogram substrat (Frontiers of Environmental Science & Engineering, 2025). 

 2. Pengomposan dan Reduksi di Sumber

Pendekatan zero waste yang menggabungkan reduksi di sumber, pengumpulan terpisah, pengomposan, dan daur ulang telah diterapkan di lebih dari 550 kota di dunia sebagai strategi cepat dan hemat biaya untuk menekan emisi metana sektor persampahan (Herlina, 2023). 

Studi Kasus dan Arah Kebijakan di Indonesia

Sebagian besar emisi metana Indonesia berasal dari pembusukan sampah organik, terutama sampah sisa makanan yang menumpuk di TPA (Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), 2026). Di Tingkat komunitas, inisiatif seperti Komunitas Nol Sampah Surabaya mendorong pengolahan sampah organik mandiri melalui kompos rumah tangga dan budidaya maggot (larva BSF) di tingkat hotel, sekolah, kampus, dan perkantoran sebagai Langkah menekan timbulan sampah organik sebelum sampai ke TPA (Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), 2026). 

Dari perspektif teknik lingkungan, tantangan utama implementasi teknologi pengolahan sampah makanan di Indonesia meliputi 

  1. Keterbatasan infrastruktur pemilahan sampah di sumber 
  2. Minimnya fasilitas pengolahan organik skala menengah di banyak kabupaten/kota
  3. Praktik open dumping yang masih dominan di sejumlah TPA 
  4. Kebutuhan regulasi teknis yang lebih rinci terkait kualitas digestat, biochar, dan produk turunan biofuel dari sampah makanan campuran

Rekomendasi dari Sudut Pandang Teknik Lingkungan 

  1. Menerapkan pemilahan sampah organik di sumber (rumah tangga, pasar, restoran) sebagai prasyarat teknis bagi keberhasilan seluruh teknologi pengolahan hilir, memprioritaskan pengomposan skala komunal/kota untuk fraksi organik. 
  2. Mengembangkan fasilitas percontohan bioconversion berbasis larva black soldier fly sebagai solusi terdesentralisasi yang sesuai dengan konteks kota-kota sedang di Indonesia.
  3. Melengkapi TPA eksisting dengan sistem penangkapan gas metana (landfill gas capture) dan pengolahan lindi guna mengurangi risiko pencemaran air dan kebakaran.
  4. Menggunakan pendekatan life cycle assessment secara sistematis dalam perencanaan infrastruktur persampahan kota agar keputusan investasi didasarkan pada bukti dampak lingkungan, bukan sekadar pertimbangan biaya jangka pendek.

Kesimpulan

Sampah makanan memerlukan adanya pendekatan rekayasa sistem secara menyeluruh, mulai dari pengurangan di sumber, pemilahan, hingga pemilihan teknologi berbasis life cycle assessment (LCA). Bukti empiris menunjukan bahwa digestasi anaerobik dan dan bioconversion menggunakan larva black soldier fly dinilai lebih baik dibandingkan penimbunan konvensional sekaligus berpotensi menghasilkan produk bernilai ekonomi seperti biogas, digestat, dan biomassa larva. 

Bagi Indonesia, dengan sisa makanan yang menyumbang sekitar 40 persen dari total timbulan sampah nasional. Maka dari itu, perlu untuk adanya penguatan infrastruktur pengolahan sampah organik berbasis prinsip LCA menjadi kunci untuk menekan emisi gas rumah kaca sektor limbah sekaligus mendukung targer SDGs 12.3.

Referensi

  • Agincourt Resources, 2025. Mengubah Sisa Makanan Menjadi Manfaat: Langkah Nyata Pengelolaan Sampah Berkelanjutan. [Online]
    Available at: https://agincourtresources.com/id/2025/10/24/mengubah-sisa-makanan-menjadi-manfaat-langkah-nyata-pengelolaan-sampah-berkelanjutan/
    [Accessed Agustus 2026].
  • American Chemical Society, 2026. Black soldier fly larvae show promise for safe organic waste removal. [Online]
    Available at: https://www.acs.org/pressroom/presspacs/2026/march/black-soldier-fly-larvae-show-promise-for-safe-organic-waste-removal.html
    [Accessed Agustus 2026].
  • Anon., 2024. Food waste; environmental impact and possible solutions. Sustainable Food Technol, II(1), pp. 70-80.
  • Food and Agriculture Organization Of The United Nations, 2023. Global Food Losses; SDG Indicators Data Portal. [Online]
    Available at: https://www.fao.org/sustainable-development-goals-data-portal/data/indicators/1231-global-food-losses/en/
    [Accessed Agustus 2026].
  • Soleymani Angili, T., Grzesik, K., Salimi, E. & Loizidou, M., 2002. Life Cycle Analysis of Food Waste Valorization in Laboratory-Scale. Environmental Evaluation and Energy Recovery in Waste Management), XV(19).
  • Food and Agriculture Organization Of The United Nations, 2024. Policy Series. [Online]
    Available at: https://www.fao.org/interactive/state-of-food-agriculture/2019/en/
    [Accessed Agustus 2026].

Penulis : Dinda Maharani | Kepala Unit Riset Hareudang Bandung

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top