
Pernah tidak sih kita ngecek, kira kira seberapa sering makanan berbahan tepung mampir ke mulut kita dalam sehari?
Mungkin pagi kita mulai dengan sepotong roti, terus siang lanjut makan mie ayam mas Joko, lalu di tutup dengan gorengan plus cabai ijo nya, dan setelah itu ya… semangkuk mie instan dengan telur. Di sela-sela aktivitas, masih ada biskuit, donat, dan kue kecil-kecil. Tanpa banyak pikir, tepung jadi semacam teman lama yang nongol hampir di setiap waktu makan kita.
Tepung terasa seperti sesuatu yang dekat sekali dengan keseharian masyarakat Indonesia. Tapi ada bagian fakta yang sering dilewatkan, Indonesia sebenarnya bukan negara penghasil gandum.
Laluuu Jika kita tidak menanam gandum, mengapa hampir setiap hari kita hidup dari tepung?
Benarkah Indonesia Tidak Menanam Gandum?
Jawabannya, belum dalam skala komersial yang benar-benar besar.
Gandum itu tumbuhan yang paling cocok tumbuh di iklim sedang atau subtropis. Sementara agroklimat di Indonesia cenderung tropis, jadi penanaman gandum belum bisa berkembang dengan baik, apalagi efisien. Memang ada penelitian yang menunjukkan gandum bisa dibudidayakan di beberapa wilayah dataran tinggi di Indonesia, tetapi hasilnya masih tergolong kecil dan belum sanggup menutup kebutuhan domestik. Akhirnya, hampir seluruh kebutuhan gandum di Indonesia masih dipasok lewat impor (Rizqi, 2024).
Ketergantungan ini diperkirakan akan terus meningkat. Penelitian yang dilakukan oleh Rizqi dkk (2024) menunjukkan bahwa tren impor gandum Indonesia cenderung meningkat dengan rata-rata 6,38% per tahun dalam periode 2021–2030. Penelitian ini memproyeksikan bahwa volume impor akan meningkat dari sekitar 12,48 juta ton pada tahun 2021 menjadi sekitar 21,64 juta ton pada tahun 2030, asalkan tidak ada perubahan signifikan dalam pola konsumsi masyarakat.
Temuan ini menunjukkan bahwa permintaan masyarakat terhadap produk pangan berbasis gandum semakin meningkat. Perubahan pola konsumsi yang beralih ke mi instan, roti, dan produk bakery membuat Indonesia semakin bergantung pada pasokan gandum dari luar negeri.
Mengapa Tepung Begitu Mendominasi Meja Makan Kita?
Meskipun Indonesia tidak memproduksi gandum dalam jumlah yang memadai, konsumsi makanan berbahan tepung terus meningkat. Produk berbasis tepung kini tidak hanya hadir sebagai makanan modern, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Mi instan, roti, gorengan, aneka kue, hingga makanan beku menjadikan tepung terigu sebagai bahan baku utama. Dominasi tersebut juga terlihat pada sektor usaha kecil. Penelitian Raharja dkk (2026). menunjukkan bahwa sekitar 65% UMKM pangan menggunakan tepung terigu sebagai bahan utama maupun bahan tambahan dalam proses produksinya.
Artinya, tepung terigu bukan hanya menjadi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menopang jutaan pelaku usaha pangan di Indonesia.
Apakah Tepung Hanya Persoalan Makanan?
Di sinilah tepung berubah dari sekadar bahan makanan menjadi komoditas politik. Banyak orang menganggap tepung hanyalah bahan baku makanan. Padahal, dalam perspektif politik pangan, suatu komoditas dapat memiliki nilai strategis yang jauh melampaui fungsi ekonominya.
Ketika sebuah negara sangat bergantung pada komoditas yang berasal dari luar negeri, stabilitas pasokannya tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh kondisi di dalam negeri. Harga, ketersediaan, bahkan keberlangsungan usaha pangan dapat dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi di negara lain.
Dengan kata lain, tepung terigu bukan sekadar bahan untuk membuat roti atau mi. Tepung merupakan bagian dari sistem pangan yang terhubung dengan perdagangan internasional, kebijakan impor, dan kondisi pasar global.
Dalam kajian ekonomi politik pangan (political economy of food) dan ketahanan pangan (food security), komoditas pangan dipandang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai strategis karena perubahan harga dan ketersediaannya dapat memengaruhi stabilitas sosial, ekonomi, bahkan politik suatu negara (Hopma & Woods, 2014). Di Indonesia, beras merupakan contoh komoditas yang paling sering mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat, pengendalian inflasi, dan stabilitas nasional.
Namun, jika melihat pola konsumsi masyarakat saat ini, tepung terigu juga mulai menunjukkan karakteristik yang serupa. Ketika jutaan rumah tangga, pelaku UMKM, hingga industri pangan bergantung pada tepung sebagai bahan baku utama, gangguan terhadap pasokannya tidak lagi hanya berdampak pada sektor perdagangan. Kenaikan harga gandum dapat meningkatkan biaya produksi pangan, mendorong kenaikan harga berbagai makanan olahan, dan pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat.
Sejarah menunjukkan bahwa persoalan pangan sering kali melampaui urusan ekonomi. Salah satu contohnya adalah Arab Spring, ketika lonjakan harga pangan global menjadi salah satu faktor yang memperburuk tekanan sosial dan memicu gelombang protes di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Meskipun bukan menjadi penyebab tunggal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kenaikan harga pangan memperbesar ketidakpuasan masyarakat yang telah terakumulasi sebelumnya (Arezki, 2011).
Tentu saja, kondisi Indonesia berbeda dengan negara-negara yang mengalami Arab Spring. Namun, contoh tersebut menunjukkan bahwa ketika suatu negara sangat bergantung pada komoditas pangan yang tidak diproduksi sendiri, ruang untuk mengendalikan harga dan menjamin ketersediaan pangan akan semakin terbatas ketika terjadi gejolak global. Karena itu, ketergantungan terhadap gandum impor bukan semata persoalan perdagangan, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan dan resiliensi sistem pangan nasional.
Ketika Pangan Ditentukan oleh Politik Global

Ketergantungan Indonesia terhadap gandum impor membuat sistem pangan nasional ikut dipengaruhi oleh dinamika global.
Konflik geopolitik, perubahan iklim, fluktuasi nilai tukar, kebijakan ekspor negara produsen, hingga gangguan rantai pasok internasional dapat memengaruhi harga dan ketersediaan gandum di pasar dunia. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa faktor seperti produksi gandum di negara mitra, nilai tukar rupiah, dan kondisi perdagangan internasional berpengaruh terhadap volume impor gandum Indonesia.
Artinya, ketika pasokan gandum dunia terganggu atau harga internasional meningkat, dampaknya tidak berhenti di pelabuhan. Kenaikan tersebut dapat dirasakan hingga ke pelaku UMKM dan masyarakat yang setiap hari mengonsumsi produk berbahan tepung.
Apakah Indonesia Tidak Memiliki Alternatif?
Indonesia memiliki beragam sumber pangan lokal yang berpotensi diolah menjadi tepung alternatif, seperti singkong, sagu, sorgum, jagung, talas, hingga berbagai jenis umbi-umbian. Potensi ini menjadi salah satu modal penting dalam upaya diversifikasi pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tepung terigu berbahan baku gandum impor.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tepung lokal telah berhasil diaplikasikan pada beragam produk pangan modern. Kombinasi mocaf (Modified Cassava Flour) dan sorgum mampu menghasilkan roti dengan mutu yang baik dan memenuhi standar mutu nasional. Sementara itu, campuran mocaf dan sagu berhasil digunakan dalam pembuatan mi dengan karakteristik fisik yang baik serta tingkat penerimaan konsumen yang positif. Formulasi mocaf dan sorgum juga telah diterapkan pada donat dengan karakteristik fisikokimia dan organoleptik yang baik (Indah Paramitha, Satrijo Saloko, 2026).
Ironisnya, selama ini kita lebih sering membicarakan harga mi instan atau roti ketika naik, tetapi jarang mempertanyakan dari mana sebenarnya bahan bakunya berasal. Padahal, di balik makanan yang terasa begitu akrab, terdapat rantai pasok global, kebijakan perdagangan, hingga pilihan sistem pangan yang menentukan apa yang akhirnya hadir di meja makan masyarakat. Tepung terigu mengajarkan bahwa pangan bukan hanya urusan dapur, tetapi juga berkaitan dengan kemandirian sebuah bangsa dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
Kemerdekaan tidak hanya berarti mampu mengibarkan bendera setiap bulan Agustus. Kemerdekaan juga berarti memiliki kemampuan menentukan apa yang kita tanam, apa yang kita makan, dan seberapa besar kita bergantung pada bangsa lain untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut.
Di balik sepotong roti atau semangkuk mi yang kita nikmati setiap hari, tersimpan pertanyaan yang layak direnungkan bersama:
Sudahkah sistem pangan Indonesia benar-benar merdeka?
REFERENSI
Arezki, R. (2011). Food Prices and Political Instability. Volume 201(Issue 062), 22.
Hari Raharja, Arif Safari, Aulia Rizki Wicaksono, B. O. N. (2026). Analisis kebijakan impor gandum dalam mengantisipasi terjadinya krisis pangan. 13(1).
Hopma, J., & Woods, M. (2014). Political Geographies of ‘Food Security’ and ‘Food Sovereignty.’ Geography Compass, 8(11), 773–784. https://doi.org/https://doi.org/10.1111/gec3.12163
Indah Paramitha, Satrijo Saloko, S. C. (2026). PENGARUH KOMBINASI TEPUNG TERIGU, MOCAF, DAN TEPUNG SORGUM ( Sorghum bicolor L.) TERHADAP MUTU ROTI SOFT ROLL. 4(1), 104–119.
Rizqi, A. H. (2024). AGRISTA : Vol . 12 No . 3 September 2024 : 14-24 ISSN : 2302-1713 ANALISIS TREND IMPOR GANDUM DAN FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENDAHULUAN Gandum sesungguhnya bukan makanan pokok masyarakat Indonesia , namun selama kurun 10 tahun terakhir perannya semakin pent. 12(3), 14–24.
Penulis : Sany Nurmala | Staff Campaign Public Advocacy Hareudang Bandung

Pingback: Antara Ketersediaan dan Keterjangkauan : Ketimpangan Akses Pangan bagi Kelompok Rentan - Hareudang Bandung