Dari Bandung ke Asia-Pasifik, Hareudang Bandung membawa Hi-You Inovasi Food Waste ke forum FAO Se-Asia Pasifik.

Hareudang Bandung membawa Hi-You dan Tong Kalap Tong Nyesa ke forum FAO Asia-Pasifik

Dari persoalan food waste di Bandung, sebuah inovasi lokal kini dibawa ke forum Asia-Pasifik. Melalui Hi-You, Hareudang Bandung membagikan pengalaman Tong Kalap Tong Nyesa! dalam International Day of Awareness of Food Loss and Waste (IDAFLW) 2026 yang diselenggarakan oleh FAO Regional Office for Asia and the Pacific.

Upaya mengurangi sampah makanan dari Bandung mendapat ruang untuk dibagikan di tingkat Asia-Pasifik. Melalui sistem Hi-You (Hareudang Intelligence Sustainability Operational Value), Hareudang Bandung membawa pengalaman implementasi program Tong Kalap, Tong Nyesa! ke forum International Day of Awareness of Food Loss and Waste (IDAFLW) 2026 yang diselenggarakan oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) Regional Office for Asia and the Pacific di Bangkok.

Forum yang berlangsung secara daring pada 29 September 2026 tersebut mengangkat tema “The Transformative Potential of Reducing Food Loss and Waste” tersebut mempertemukan lebih dari 330+ partisipan dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik dengan fokus khusus pada peran anak muda dalam mendorong perubahan dari persoalan food loss and waste menjadi peluang untuk menciptakan nilai baru. FAO menyebut agenda regional tahun ini sebagai “Youth Driving the Waste to Wealth Revolution”, yang mempertemukan pengalaman dari berbagai negara dengan inovator muda di kawasan Asia dan Pasifik.

Dalam kesempatan tersebut, Hareudang Bandung diwakili oleh Yoga Fauzan Renardi sebagai Founder dan Strategic Advisory untuk membagikan pengalaman lokal mengenai pengurangan sampah makanan, pemanfaatan data, serta bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membantu pelaku usaha memahami dan mengendalikan food waste.

Dari Kampanye Perubahan Perilaku ke Pengambilan Keputusan Berbasis Data

Pengalaman yang dibawa Hareudang Bandung tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, Hareudang terlibat dalam ekosistem program Tong Kalap, Tong Nyesa! , sebuah kampanye pengurangan sampah makanan yang diinisiasi oleh World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung melalui program Urban Futures.

Kampanye tersebut diluncurkan di Bandung pada Juli 2026 dengan sasaran utama anak muda dan ruang-ruang kuliner seperti kafe dan restoran. Pesan yang diangkat sederhana, yaitu mengajak masyarakat untuk tidak mengambil atau memesan makanan secara berlebihan dan tidak menyisakan makanan yang sudah diambil. Persoalan tersebut menjadi semakin relevan karena sampah makanan merupakan bagian besar dari timbulan sampah di Kota Bandung. WRI Indonesia mencatat timbulan sampah kota mencapai sekitar 1.600 ton per hari, dengan sampah makanan berada pada kisaran 44–45 persen dari total timbulan.

Di sisi lain, perubahan perilaku perlu didukung oleh data agar dampaknya dapat dipahami secara lebih konkret. Di sinilah Hi-You dikembangkan sebagai sistem operasional berbasis data yang membantu bisnis kuliner mengidentifikasi, mencatat, dan menganalisis sampah makanan.

Melalui Hi-You, data yang sebelumnya hanya menjadi catatan sisa makanan dapat diolah menjadi informasi mengenai volume sampah, potensi kerugian, pola pemborosan, hingga peluang perbaikan operasional. Dengan pendekatan tersebut, pengurangan food waste tidak hanya dilihat sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi bisnis.

Melalui Hi-You, Menghubungkan Sampah Makanan dengan Efisiensi Bisnis

Bagi Hareudang Bandung, salah satu pembelajaran penting dari persoalan food waste adalah bahwa makanan yang terbuang sebenarnya memiliki konsekuensi yang lebih panjang daripada sekadar bertambahnya volume sampah. Ada bahan baku yang dibeli tetapi tidak terpakai, makanan yang diproduksi tetapi tidak habis, hingga makanan yang tersisa setelah dikonsumsi. Setiap tahap tersebut memiliki biaya yang telah dikeluarkan oleh bisnis.

Karena itu, Hi-You dirancang untuk membantu pelaku usaha melihat persoalan tersebut melalui data.

Sistem ini mengintegrasikan proses pemantauan, pencatatan, analisis, dan forecasting sehingga pelaku usaha dapat melihat hubungan antara jumlah makanan yang terbuang dengan potensi kerugian operasional.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari cerita yang dibawa Yoga Fauzan Renardi dalam forum FAO. Bukan hanya tentang bagaimana teknologi dibuat, tetapi bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membantu menerjemahkan persoalan lingkungan menjadi keputusan yang lebih terukur di tingkat operasional.

Dari Bandung Ke Asia-Pasifik

Forum IDAFLW 2026 menjadi ruang pertukaran pengalaman antara berbagai pihak yang bergerak dalam isu pengurangan food loss and waste. Selain Hareudang Bandung, kegiatan ini menghadirkan berbagai pembicara dan peserta dari kawasan Asia-Pasifik, termasuk Khemmathin Lueangwatt-anapong, Ankita Vijayvergiya, Christian Yves Amato-Ali, Faizal Hamid, Camelia A. Bucatariu, dan Bedoshruti Sadhukhan.

Kehadiran Hareudang Bandung dalam forum tersebut menunjukkan bahwa inovasi untuk persoalan pangan tidak selalu harus dimulai dari skala besar. Pengalaman yang lahir dari persoalan sehari-hari di kota seperti Bandung dapat menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas ketika didukung oleh pendekatan yang dapat dipelajari dan dikembangkan.

FAO sendiri menempatkan inovasi, keterlibatan anak muda, dan pertukaran pengetahuan sebagai bagian penting dalam mempercepat aksi pengurangan food loss and waste di kawasan Asia dan Pasifik.

Mengubah Sisa Makanan Menjadi Data untuk Bertindak

Di balik pengembangan Hi-You terdapat kolaborasi lintas bidang di Hareudang Bandung. Sistem ini diinisiasikan oleh Yoga Fauzan Renardi (Lead Director, Innovation & Sustainability), Elina Pebriyanti dan Erick Fathurahman (Digital System & Technology Specialist), Laela Nisa Putri (Lead of Research and Impact Intelligence), serta Andini Destiany Putri (Lead of Business and Operations Strategy).

Masing-masing membawa perspektif yang berbeda, mulai dari inovasi dan sustainability, pengembangan sistem digital, riset dan pengukuran dampak, hingga strategi bisnis dan operasional. Dari kolaborasi inilah Hi-You dikembangkan sebagai upaya menghubungkan persoalan food waste dengan data, teknologi, dan kebutuhan nyata bisnis kuliner.

Bagi Hareudang Bandung, kesempatan berbagi pengalaman dalam forum FAO menjadi bagian dari perjalanan untuk terus mengembangkan solusi yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat. Pengembangan Hi-You menunjukkan bahwa pengurangan food waste dapat dimulai dari langkah sederhana: memahami masalah, mengumpulkan data, kemudian mengubahnya menjadi aksi yang dapat diterapkan.

Perjalanan ini juga tidak berhenti pada satu program atau satu sistem. Hareudang Bandung percaya bahwa persoalan food loss and waste membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha, komunitas, institusi pendidikan, pemerintah, hingga mitra teknologi dan organisasi yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan.

Karena itu, Hareudang Bandung terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak yang ingin bersama-sama mengembangkan solusi pengurangan food waste, pemanfaatan data, inovasi digital, dan sistem pangan perkotaan yang lebih berkelanjutan. Mulai dari pengembangan teknologi, riset dan pengukuran dampak, edukasi, implementasi di sektor kuliner, hingga pengembangan inovasi baru, setiap kolaborasi dapat menjadi langkah untuk memperluas dampak dari Bandung ke wilayah yang lebih luas.

Mari berkolaborasi bersama Hareudang Bandung untuk mengubah persoalan food waste menjadi ruang untuk berinovasi, menciptakan nilai, dan membangun perubahan yang dapat dirasakan bersama.

Referensi

  1. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) Regional Office for Asia and the Pacific. International Day of Awareness of Food Loss and Waste (IDAFLW) 2026 — Regional Webinar. 29 September 2026. Tema kegiatan: “The Transformative Potential of Reducing Food Loss and Waste” dan fokus “Youth Driving the Waste to Wealth Revolution.”
  2. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) Regional Office for Asia and the Pacific. International Day of Awareness of Food Loss and Waste (IDAFLW) — 29 September. Informasi mengenai tema IDAFLW 2026 dan pentingnya pengurangan food loss and waste untuk ketahanan pangan, sumber daya alam, iklim, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi.
  3. World Resources Institute (WRI) Indonesia. Tong Kalap, Tong Nyesa!. Informasi mengenai kampanye pengurangan sampah makanan di Kota Bandung dan rangkaian program yang melibatkan orang muda serta sektor kafe dan restoran.

Penulis : Elina Pebriyanti | Kepala Divisi Teknologi dan Sistem Digital Hareudang Bandung

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top