Saat Hiburan di Media Sosial Menjadi Jalan Baru Diversifikasi Pangan Ketika Pangan Lokal Masuk FYP

Bisakah sesuatu yang hampir tidak dikenal oleh generasi sekarang mencuat di media sosial menjadi hiburan populer sekaligus menjadi langkah awal untuk memperkenalkan pangan lokal? Diantara ketenaran olahan pangan yang terus berlomba menjadi yang terbaru, media sosial ternyata dapat menjadi salah satu jalan bagi pangan lokal yang perlahan kehilangan eksistensinya untuk kembali menjadi topik hangat di tengah tren olahan pangan yang sedang digandrungi masyarakat. Melestarikan hasil pertanian Indonesia tidak selalu harus dilakukan melalui olahan pangan tradisional. Fusion food yang sedang ramai digemari juga dapat menjadi alternatif, dengan mengganti bahan bakunya menggunakan sumber pangan lokal. Cara ini dapat menjadi salah satu langkah untuk memperluas pilihan pangan agar tidak terus bergantung pada satu sumber saja.

Dari Hiburan Menjadi Rasa Penasaran

Video pendek di media sosial menjadi menarik ketika hiburan dapat berjalan beriringan dengan edukasi yang mudah diterima dan dipahami masyarakat. Fenomena Ibu Kimpul menunjukkan bagaimana media sosial dapat membuka ruang percakapan baru mengenai pangan lokal. Dari sebuah video pendek yang menghibur, perhatian penonton dapat berubah menjadi rasa penasaran. Rasa penasaran kemudian dapat mendorong seseorang mencari informasi, mengenal bahan yang sebelumnya asing, hingga muncul keinginan untuk mencoba atau re-cook. Memang, tidak semua orang yang melihat konten tersebut akan langsung mencoba membuatnya. Namun, proses mengenal pangan yang sebelumnya tidak familiar sudah menjadi tahap awal yang penting. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan edukasi pangan di media sosial tidak selalu harus diukur dari seberapa banyak orang yang langsung memasak ulang. Ada proses yang lebih awal, yaitu ketika seseorang yang sebelumnya tidak mengenal kimpul mulai mengetahui bahwa bahan tersebut ada dan dapat diolah menjadi sesuatu yang menarik.

Membuat Pangan Lokal Kembali Relevan

Pada era sekarang, banyak peluang dapat muncul ketika kita mampu mengikuti perkembangan yang ada. Relevansi menjadi penting, bukan hanya dalam bagaimana edukasi dikemas, tetapi juga dalam bagaimana pangan lokal dapat diolah menjadi sesuatu yang dekat dengan kebiasaan dan selera masyarakat saat ini.Artinya, pangan lokal tidak harus selalu diperkenalkan dalam bentuk yang sama seperti sebelumnya. Ketika pola konsumsi dan tren makanan berubah, cara memperkenalkan bahan pangan juga dapat ikut berkembang. Jika masyarakat sedang tertarik pada suatu jenis olahan, bahan pangan lokal dapat mengambil peluang tersebut untuk hadir di dalamnya. Hal ini menjadi salah satu bentuk upaya memperluas pilihan sumber pangan agar konsumsi tidak terlalu bergantung pada satu jenis pangan. Dengan kata lain, relevansi dapat menjadi salah satu pintu masuk menuju diversifikasi pangan.

DiBalik FYP: Tantangan Diversifikasi Pangan

Diversifikasi pangan dilakukan bukan karena Indonesia kekurangan pilihan pangan. Justru sebaliknya, Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal, seperti singkong, ubi jalar, sagu, jagung, kimpul, dan berbagai bahan pangan lainnya yang dapat menjadi pilihan selain beras. Namun, banyaknya pilihan tersebut belum otomatis membuat seluruhnya menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi masyarakat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada 2025 rata-rata konsumsi beras lokal/ketan mencapai 1,510 kg per kapita per minggu, sedangkan ketela pohon sebesar 0,105 kg dan ketela rambat sebesar 0,068 kg per kapita per minggu. Data tersebut memang tidak secara khusus menunjukkan tingkat konsumsi kimpul, tetapi dapat memberikan gambaran mengenai masih besarnya perbedaan konsumsi antara beras dan beberapa sumber karbohidrat lokal lainnya. Pada periode 2015–2024, konsumsi beras lokal/ketan juga masih berada jauh di atas konsumsi ketela pohon maupun ketela rambat. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberagaman sumber pangan yang dimiliki Indonesia belum sepenuhnya tercermin dalam pilihan pangan sehari-hari. Diversifikasi pangan pun menjadi bagian dari arah kebijakan nasional. Melalui Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024, pemerintah menetapkan percepatan penganekaragaman pangan berbasis potensi sumber daya lokal. Upaya tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan potensi pangan yang tersedia di berbagai wilayahsekaligus mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber pangan. Dalam kondisi seperti ini, konsistensi edukasi menjadi penting. Ketika informasi mengenai pangan lokal terus hadir di ruang yang sering ditemui masyarakat, termasuk melalui FYP, pangan lokal memiliki kesempatan untuk kembali dikenal. Namun, mengenal tentu belum cukup.

Kimpul, Inovasi, dan Peran Teknologi Pangan

Kimpul memiliki peluang untuk tidak hanya dipandang sebagai bahan pangan tradisional, tetapi juga sebagai bahan baku yang dapat dikembangkan melalui inovasi. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Xanthosoma sagittifolium merupakan sumber karbohidrat potensial dengan kandungan pati yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan produk pangan. Pemanfaatannya pun tidak terbatas pada pengolahan sederhana. Penelitian mengenai kimpul telah mengembangkan bahan tersebut sebagai salah satu bahan dasar dalam produk pangan, salah satunya daging analog pada produk sosis. Hal ini menunjukkan bahwa kimpul memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang mengikuti kebutuhan dan inovasi pangan masa kini. Permasalahannya kemudian bukan hanya bagaimana membuat masyarakat mengetahui kimpul, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut dapat diteruskan menjadi penerimaan dan pemanfaatan yang lebih luas. Pangan lokal membutuhkan jembatan antara potensi bahan dan kebiasaan konsumen. Media sosial dapat menjadi salah satu bagian dari jembatan tersebut karena informasi mengenai pangan dapat disampaikan secara lebih dekat dengan keseharian masyarakat. Penelitian di Indonesia mengenai pemanfaatan Instagram sebagai media komunikasi diversifikasi konsumsi pangan menunjukkan bahwa video mengenai diversifikasi pangan dinilai menarik oleh pengikut akun yang diteliti. Sementara itu, penelitian lain pada mahasiswa di Kota Makassar menemukan adanya hubungan antara akses media sosial terkait informasi makanan dengan perilaku makan, meskipun durasi dan frekuensi penggunaan media sosial tidak menunjukkan hubungan yang sama.Artinya, yang menjadi penting bukan sekadar seberapa lama seseorang berada di media sosial, tetapi informasi seperti apa yang mereka temui dan bagaimana informasi tersebut dapat membentuk pengetahuan maupun ketertarikan terhadap pangan. Karena itu, solusi diversifikasi pangan tidak berhenti pada membuat pangan lokal menjadi viral. Perhatian yang muncul dari media sosial perlu dilanjutkan dengan inovasi produk, peningkatan mutu dan keamanan, kemudahan pengolahan, serta pemasaran yang mampu mempertahankan ketertarikan konsumen. Di sinilah teknologi pangan memiliki peran untuk menjembatani potensi bahan pangan lokal dengan produk yang dapat diterima masyarakat.

Daftar Referensi

1. Badan Pangan Nasional. (2024). Perpres No. 81 Tahun 2024 Jawab Urgensi Ketahanan Pangan Nasional Lewat Optimalisasi Sumber Daya Lokal. Badan Pangan Nasional.

2. Badan Pangan Nasional. (2025). Strategi Baru Diversifikasi Pangan: Maksimalkan Pekarangan, Perkuat Ekonomi Petani dan Nelayan. Badan Pangan Nasional.

3. Badan Pusat Statistik. (2026). Rata-Rata Konsumsi per Kapita Seminggu Beberapa MacamBahanMakananPenting, 2025. Badan Pusat Statistik.

4. Badan Pusat Statistik. (2026). Rata-Rata Konsumsi per Kapita Seminggu Beberapa MacamBahanMakananPenting, 2015–2024. Badan Pusat Statistik.

5. Febrianti, K. D. (2026). Potensi Kimpul (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott) sebagai Bahan Pangan Lokal Alternatif Sumber Karbohidrat: Literature Review. Nutris Journal of Human Nutrition Science, 1(2), 1–8.

6. Lindriati, T., Masahid, A. D., & Daroini, I. K. (2020). Aplikasi daging analog berbahan dasar umbi kimpul (Xanthosoma sagittifolium) dan isolat protein kedelai pada pembuatan sosis. Jurnal Teknologi Pertanian Andalas, 24(1), 7–16.

7. Aprianti, F., Kartina, A. M., & Salampessy, Y. L. A. (2021). Efektivitas pemanfaatan Instagram sebagai media komunikasi diversifikasi konsumsi pangan pokok (Kasus akun Instagram @ayuangling). JRK (Jurnal Riset Komunikasi), 12(2).

8. Karini, T. A., Arranury, Z., Ansyar, D. I., Wijaya, D. R., & Syahrir, R. A. (2022). Hubungan penggunaan media sosial dengan perilaku makan mahasiswa di Kota Makassar. HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan, 8(2), 118–124.

Penulis : Syawal Asri | Kepala Divisi Aksi Publik Hareudang Bandung

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top